Senin, 05 Mei 2014

Otentisitas Teks Kitab Suci Al-Qur’an, Tak-Ternilai Harganya

Wacana untuk melakukan 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, yang mulai berkembang di kalangan para cendikiawan Muslim, pada dasarnya sama halnya dengan berusaha mengulangi kesalahan sejarah, yang telah dilakukan oleh umat Nasrani, yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as). Maka umat Islam tentunya
mestinya tidak melakukan kesalahan yang serupa pula.

Pada sebagian dari para cendikiawan Muslim dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi agama Islam, telah mulai berkembang wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an. Para cendikiawan seperti ini boleh jadi tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas teks ayat-ayatnya. Juga boleh jadi hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an. Namun justru wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu telah salah kaprah, dan tidak menempatkan 'kitab suci agama' sebagaimana semestinya.

Teks kitab suci Al-Qur'an yang terus-menerus tetap terjaga 'otentisitas'-nya, justru tak-ternilai harganya bagi pembentukan keyakinan beragama seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia. Usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' tersebut justru bisa menghancurkan salah-satu pondasi yang amat mendasar dalam keyakinan beragama. Juga bisa menimbulkan amat banyak persoalan yang menyangkut 'kitab suci', belum lagi segala persoalan lainnya yang menyertainya, yang bahkan barangkali belum diperhitungkan atau dibayangkan oleh para cendikiawan Muslim itu.

Perkembangan atas wacana itu tentunya amat mengecewakan dan mestinya segera dihentikan. Jika tujuan mereka itu memang hendak mencari solusi bagi segala persoalan pemahaman umat Islam atas kitab suci Al-Qur'an, tentunya mestinya bukan dengan usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, namun mestinya dengan usaha memperbaiki langsung tiap pemahaman itu sendiri.

Segala bentuk pemahaman atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an, tidak akan pernah bersifat sakral sampai kapanpun, karena memang hanya semata milik dan berasal dari tiap pribadi-individu dan kelompok umat. Namun di lain pihaknya, kitab suci Al-Qur'an justru mestinya terus-menerus tetap dijaga kesakralannya, karena memang milik seluruh umat Islam ataupun bahkan seluruh umat manusia, dari umat yang paling awam sampai umat yang paling berilmu, serta tentunya langsung berasal dari nabi Muhammad saw sendiri.

Dengan adanya usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu misalnya, tentunya kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang akan dihasilkanpun, justru sama sekali tidak akan bersifat sakral. Khususnya karena bukan langsung berasal dari seorang nabi-Nya, yang memang memiliki pemahaman yang relatif sempurna tentang kebenaran-Nya (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya). Maka "apakah para cendikiawan Muslim penggagas wacana 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' itu, memang benar-benar telah memiliki kesempurnaan pemahaman seperti halnya pada para nabi-Nya (terutama nabi Muhammad saw)?. Jika keseluruhan pemahaman mereka belum relatif sempurna, atau bahkan hanya semata diilhami dari berbagai risalah para nabi-Nya (tidak membawa berbagai hal yang baru, dan tidak lebih baik daripada ajaran-ajaran para nabi-Nya), tentunya mereka juga belum pantas untuk menyusun sesuatu 'kitab suci'.

Para cendikiawan Muslim itu justru mestinya belajar dari pengalaman umat Nasrani (Kristiani), yang menyusun banyak versi kitab Injil, dan bahkan bukan disusun langsung oleh Yesus sendiri (nabi Isa as), yang juga sekaligus telah menimbulkan perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Nasrani. Hal ini tentunya berbeda daripada perpecahan dan perselisihan di kalangan umat Islam, yang justru hanya berbeda pada tingkat pemahaman, namun tetap memakai kitab suci Al-Qur'an yang 'sama'. Segala perbedaan pemahaman di kalangan umat Islam, tentunya mestinya tidak menimbulkan perpecahan dan perselisihan yang relatif lebih keras dan parah, daripada apabila ada perbedaan kitab suci yang dipakai (mestinya tidak mudah saling mengkafirkan antar umat Islam sendiri).

Para cendikiawan Muslim itu mestinya jauh lebih baik, jika bisa menghasilkan kitab tafsir, kitab hikmah atau buku-buku keagamaan lainnya, untuk bisa makin memperbaiki tingkat pemahaman umat Islam, tentang tiap kebenaran-Nya. Namun sama sekali bukan dengan menyusun berbagai kitab suci Al-Qur'an yang 'baru', yang justru relatif tidak akan pernah selesai tuntas, bahkan sampai akhir jaman, melalui usaha-usaha 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi', dari jaman ke jaman. Dan juga lebih baik bagi para cendikiawan Muslim itu, untuk tetap beriman kepada kitab suci Al-Qur'an, walaupun barangkali mereka memang tidak menyetujui pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayatnya.

"Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepadamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi dari Al-Qur`an, dan yang lainnya (ayat-ayat) yang mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: `Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb-kami`. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya), melainkan orang-orang yang berakal." – (QS.3:7).

Seluruh uraian-pembahasan pada dasarnya sejauh mungkin berusaha menghindari pemahaman secara 'tekstual-harfiah' atas ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an. Di lain pihaknya, justru keotentikan dan kesakralan teks kitab suci Al-Qur'an, adalah suatu yang mestinya terus-menerus tetap dipertahankan oleh tiap umat Islam yang beriman, bahkan tidak bisa ditawar-tawar, karena memang tak-ternilai harganya. Sebaliknya, tiap wacana dan usaha untuk melakukan 'dekonstruksi' dan 'desakralisasi' atas kitab suci Al-Qur'an, mestinya bisa sejauh mungkin dihindari, atau bahkan dihentikan dan dihilangkan, antara-lain karena:

Berbagai kelemahan pada usaha dekonstruksi dan desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an

a).   Teks kitab suci adalah sumber dasar utama keyakinan umat beragama, yang tidak bisa tergantikan, dan mestinya tetap terjaga otentik dengan cara bagaimanapun, terutama untuk bisa menghindari timbulnya segala bentuk keraguan umat. Sekali teks ayat kitab suci diubah, maka relatif mulai hancur pula pondasi yang paling dasar dan utama bagi keyakinan batiniah umat, atas agamanya. Karena tiap kitab-Nya (Al-Kitab / kitab tauhid / "ayat-ayat-Nya yang tertulis"), adalah sumber pengajaran dan tuntunan-Nya yang paling lengkap dan sempurna, yang dimiliki oleh seluruh umat manusia di tiap jamannya.

b).   Tiap usaha perubahan atas teks-teks kitab suci, pada dasarnya sama halnya dengan membuka suatu 'kotak pandora', karena relatif pasti diikuti pula oleh berbagai usaha perubahan berikutnya, yang relatif tidak akan pernah selesai tuntas, bahkan sampai akhir jaman.

c).   Dengan telah berakhirnya jaman para nabi-Nya dahulu, justru keotentikan teks kitab-Nya menjadi suatu 'harga mati' (tidak bisa ditawar-tawar untuk diubah-ubah), karena teks kitab suci justru tak-ternilai harganya, dan bahkan barangkali juga amat sulit bisa dibayangkan nilainya oleh sebagian umat.

Hanya para nabi-Nya yang telah diberikan-Nya wahyu-Nya, sedangkan tiap wahyu-Nya yang berada di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa tiap Al-Hikmah), adalah tiap pemahaman dalam satu-kesatuan bangunan pemahaman, yang seluruhnya berupa pemahaman Al-Hikmah (hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang telah tersusun relatif 'sempurna' (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya). Di antara seluruh umat manusia di tiap jamannya, memang hanya para nabi-Nya yang relatif 'paling lengkap dan sempurna' bisa memahami kebenaran-Nya.

Bahkan hanya semata para rasul-Nya (sebagian dari para nabi-Nya), yang memiliki kapasitas untuk menyusun kitab-Nya. Serta kitab suci Al-Qur'an adalah kitab-Nya yang paling akhir, lurus, lengkap dan sempurna. Sedangkan setelah wafatnya nabi Muhammad saw, sebagai nabi / rasul-Nya yang terakhir, tentunya pemahaman seluruh umat manusia selanjutnya, secara alamiah pada dasarnya 'relatif' jauh di bawah kesempurnaan pemahaman Nabi, atas seluruh wahyu-Nya yang diperolehnya, dan telah terungkap melalui kitab suci Al-Qur'an. Maka tiap hasil perubahan atas teks kitab suci, pada dasarnya juga pasti tetap bersifat 'relatif', walaupun makna tekstual-harfiahnya barangkali memang bisa menjadi lebih baik.

d).   Teks kitab suci memang relatif amat terbatas, untuk bisa mengungkap seluruh makna yang sebenarnya dimaksud pada wahyu-wahyu-Nya, yang berada di dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya (berupa Al-Hikmah). Juga teks-teks kitab suci memang sengaja diringkas dan disederhanakan, agar relatif lebih mudah bisa dipahami dan diamalkan oleh umat pada umumnya. Namun justru hanya melalui teks wahyu-Nya (berupa ayat Al-Kitab), yang relatif amat ringkas dan sederhana itu, tiap umat (termasuk umat yang awam) bisa 'mulai' berusaha memahami makna-makna yang sebenarnya di balik teks-teksnya.

Lalu umat yang awam bisa perlahan-lahan makin memperdalam pemahamannya, sejalan dengan makin bertambah luasnya pengetahuannya. Sehingga umat yang awam justru tidak dipaksa, untuk meloncat langsung ke tingkat pemahamannya umat yang berilmu tinggi (jika wahyu-Nya disampaikan secara mendalam). Bagi umat yang berilmu, tentunya bisa meningkatkan pemahamannya atas tiap kebenaran-Nya, melalui segala bahan bacaan lainnya dari berbagai bidang ilmu (ilmu agama dan non-agama), yang telah disusun oleh para alim-ulama dan para cendikiawan Muslim terdahulu. Bahkan jika bahan-bahan itu memang belum memuaskannya, umat yang berilmu bisa pula mempelajari sendiri kitab suci Al-Qur'an, secara relatif amat cermat, obyektif, mendalam, utuh dan menyeluruh.

Maka amat tidak relevan bagi umat yang berilmu, untuk berusaha mengubah-ubah teks kitab suci, apalagi jika hanya untuk kepentingan dan kepuasan pribadinya.

e).   Agama-Nya bukan hanya milik dan hanya untuk umat yang relatif amat tinggi dan mendalam ilmu agamanya, tetapi justru milik dan untuk seluruh umat manusia.

Bahkan umat yang awam justru mayoritas jumlahnya dari seluruh umat beragama.
Maka teks kitab suci agama-Nya, mestinya bisa dipakai oleh seluruh umat manusia (dari umat yang paling awam sampai umat yang paling berilmu).

f).   Teks kitab suci yang tetap otentik, justru bisa makin mudah dihapal oleh tiap umat. Makin banyak umat yang menghapalnya, sebaliknya justru bisa makin terjaga keotentikannya, sekaligus makin terhindar dari segala perubahan dan campur tangan manusia. Jika teks kitab suci diubah-ubah, dengan sendirinya hilang-musnah pula segala usaha dan potensi amat besar dari para penghapal kitab suci.

g).   Kitab suci adalah alat pemersatu seluruh umat penganut sesuatu agama, begitu pula bahasa yang dipakai di dalamnya, adalah bahasa pemersatu (lingua franca).

h).   Pemahaman atas makna-makna dalam tiap ajaran agama, hanya milik tiap pribadi-individu dan kelompok umat, dari hasil mempelajari teks kitab sucinya, dengan cara pandang yang berbeda-beda dan tanpa batas-ukuran (bersifat relatif). Maka pemahaman dan maknanya itupun tentunya justru pasti bersifat 'tidak sakral'. Sebaliknya teks kitab suci justru bersifat 'sakral', karena dipakai oleh 'seluruh' umat, walaupun pemahaman dan makna secara tekstual-harfiahnya memang bentuk pemahaman dan makna yang relatif paling sederhana (langsung bisa terbaca dari teksnya, bahkan relatif tanpa perlu dipelajari sama sekali, dan cukup dihapal saja).

Sehingga usaha desakralisasi atas 'teks' kitab suci yang justru mestinya dihindari, yang amat berbeda daripada desakralisasi 'makna' di dalamnya. Tiap umat relatif bisa lebih bebas dalam memaknai tiap teks kitab suci, asalkan ia tidak terlalu melenceng jauh dari dasar-dasar pokok ajaran agam

i).   Nilai kemudharatan dari tiap usaha mengubah-ubah teks kitab suci, justru amat jauh lebih besar, daripada segala keuntungan bagi umat yang mengubahnya (misalnya, bisa memiliki dan mengungkap pemahaman yang relatif jauh lebih mendalam, daripada sekedar pemahaman secara tekstual-harfiahnya).

Padahal nilai kemanfaatan dari keotentikan teks kitab suci justru telah amat sangat jelas, dan juga menyangkut kehidupan beragama seluruh umat manusia. Sedangkan pemahaman umat atas tiap kebenaran-Nya, justru pasti tetap bersifat 'relatif' (mustahil bisa bersifat 'mutlak' atau 'pasti benar', yang hanya semata hak-milik Allah, Yang Maha Mengetahui). Dan tiap pemahaman umat juga hanya menyangkut umat itu sendiri (beserta umat-umat lainnya yang mengikutinya).

Pemahaman 'relatif', namun juga relatif paling lengkap dan sempurna tentang kebenaran-Nya, yang bisa dicapai oleh seluruh umat manusia di tiap jamannya, adalah pemahaman pada para nabi-Nya, yang sebagian darinya (hanya beberapa para nabi-Nya), telah pula mengungkapnya melalui kitab-kitab-Nya.
Sehingga pemahaman 'relatif' pada para nabi-Nya juga relatif paling dekat, terhadap kebenaran 'mutlak' milik Allah di alam semesta ini. Maka pernyataan seperti "Al-Quran bisa dipandang sakral secara substansi, tetapi tulisannya tidak sakral.", adalah pernyataan yang amat keliru dan aneh (terbalik). Apa yang bisa disakralkan dari pemahaman atas 'substansi' Al-Quran, yang sama sekali tidak berbentuk atau gaib (berupa pemahaman)?. Jawabannya 'Tidak bisa'. Bahkan pemahaman atas 'substansi' Al-Quran justru pasti tetap bersifat 'relatif' (tidak pasti benar), dan tentunya juga tidak akan pernah bersifat 'sakral'. Bahkan juga "apa yang bisa disakralkan, dari seluruh pemahaman 'substansi' yang berada di dalam pikiran para nabi-Nya?".

Sedangkan teks dan mushaf kitab suci Al-Quran justru mestinya tetap disakralkan, sebagai "ayat-ayat-Nya yang tertulis" (Al-Kitab / kitab-Nya), yang paling akhir, lurus, lengkap dan sempurna, yang dimiliki oleh seluruh umat manusia. Sehingga relatif paling aman dan mudah bagi tiap umat manusia, untuk bisa memahami kebenaran-Nya di alam semesta ini ("ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis"), dengan 'memulai' mempelajarinya dari kitab suci Al-Quran.

Walaupun tiap umat manusia (terutama umat-umat yang amat berilmu), tentunya juga bisa langsung (ataupun sambil) mempelajarinya dari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" itu, yang justru bersifat mutlak, kekal, universal, alamiah dan gaib (tersembunyi), seperti halnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya.

j).   Amat aneh bisa timbul pernyataan, seperti "otentisitas kitab suci Al-Quran perlu digugat", dari sebagian kecil kalangan ahli ilmu agama, khususnya hanya karena makna secara teksual-harfiah atas bunyi teks ayat-ayat Al-Qur'an, dianggap tidak sesuai dengan makna yang sebenarnya (Al-Hikmah).

Padahal "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" yang ada di alam semesta ini, "mustahil bisa dituliskan dengan tinta sebanyak beberapa samudera". Maka kitab-kitab-Nya (termasuk kitab suci Al-Qur'an), adalah bentuk 'hasil rangkuman' atas keseluruhan pemahaman pada para nabi-Nya, dari hasil mempelajari "ayat-ayat-Nya yang tak-tertulis" (sambil dituntun oleh para malaikat Jibril), terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah), seperti: Allah Yang Maha Pencipta, tujuan penciptaan alam semesta dan kehidupan makhluk, ruh, alam gaib dan akhirat, Hari Kiamat, dsb. Bahkan teks hasil rangkuman inipun telah diringkas dan disederhanakan, agar umat bisa relatif mudah memahami dan mengamalkannya.

Sehingga dari teks ayat-ayat Al-Qur'an yang ringkas dan sederhana itu, tentunya tidak bisa 'langsung' diperoleh makna-makna yang sebenarnya, kecuali dengan mempelajarinya terlebih dahulu, secara relatif amat cermat, obyektif, mendalam, utuh dan menyeluruh. Padahal ukuran otentisitas dari tiap teks tertulis, justru amat sederhana, bahwa teks itu memang berasal dari seseorang (ditulisnya sendiri ataupun tidak), yang diperkuat oleh sejumlah saksi. Dan kitab suci Al-Quran jelas-jelas langsung berasal dari nabi Muhammad saw, walaupun memang ditulis oleh berbagai pengikutnya, dengan berragam format atau bentuknya (adanya berragam mushaf Al-Quran).

k).   Amat aneh bisa timbul suatu pernyataan, seperti "Al-Qur'an adalah perangkap bangsa Arab Quraisy", atau "orang yang mensakralkan Al-Qur'an telah berhasil terperangkap siasat bangsa Arab Quraisy".

Padahal kelahiran nabi Muhammad saw sebagai orang Arab, diturunkan-Nya kitab suci Al-Qur'an melalui bangsa Arab, ataupun penulisan kitab suci Al-Qur'an dengan menggunakan bahasa Arab, justru sama sekali bukan kehendak bangsa Arab. Padahal kitab suci Al-Qur'an mestinya disakralkan, karena di dalamnya memang terkandung segala kebenaran-Nya, yang amat tinggi nilai kemuliaannya. Hal ini amat berbeda dengan pensakralan Al-Qur'an, pada pernyataan sebagian ahli ilmu agama di atas, yang sebenarnya bukan suatu bentuk pensakralan, tetapi akibat adanya 'pemaksaan' kepada bentuk pemahaman secara tekstual-harfiah, oleh sebagian dari para alim-ulama.

Dari pernyataan di atas, 'seolah-olah' bangsa Arab Quraisy telah sengaja berusaha mengambil keuntungan, melalui 'pemaksaan' pemahaman secara tekstual-harfiah. Hal ini sama sekali tidak beralasan, karena ada segala bentuk pemahaman yang berkembang di kalangan umat (bangsa Arab ataupun non-Arab), seperti: amat maju dan amat tradisional, amat utuh dan parsial, amat mendalam dan sederhana, secara tekstual-harfiah dan hakekat, dsb.

Padahal tidak ada satupun &#39keuntungan&#39 yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, yang khusus diberikan-Nya hanya bagi bangsa Arab, selain tentang: nabi Muhammad saw dari bangsa Arab, pemakaian bahasa Arab, ibadah haji ke Kota Mekah, dan shalat menghadap ke Ka'bah.
Dan hal-hal selain dari itu, diyakini relatif hanya disebut dalam hadits-hadits 'palsu'.

l).   Bahasa, huruf dan kertas memang hanya alat-sarana hasil budaya, tetapi makna-makna yang disampaikan oleh para nabi-Nya di dalam teks kitab suci agama-Nya (kitab-kitab-Nya), tidak berarti dengan sendirinya juga hasil budaya. Bahkan pada saat turunnya agama dan kitab-Nya, justru amat banyak membawa perubahan besar, bagi kehidupan dan budaya umat kaumnya para nabi-Nya.

Alat penyampaian (wadahnya) pasti tetap berbeda daripada makna yang disampaikan (isinya). Jika tidak dipisah antara wadah dan isi seperti itu (antara sumber dan hasil, antara awal dan akhir, dsb), maka segala sesuatu hal yang ada pada manusia, justru pasti bisa disebut 'produk budaya manusia'. Padahal segala kebenaran di alam semesta ini justru yang bersifat 'mutlak' dan 'kekal', serta hanya milik dan berasal dari Allah semata, bagaimanapun cara penyampaiannya, pada kitab manapun tertulis ataupun siapapun penyampainya. Segala kebenaran 'mutlak' dan 'kekal' seperti itu sama sekali berada di luar kekuasaan manusia, termasuk sama sekali tidak terkait dengan perbuatan dan budaya manusia. Maka pernyataan seperti "Al-Quran adalah produk budaya manusia.", adalah pernyataan yang amat keliru dan aneh. Sedangkan segala Al-Hikmah, yang terkandung 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an justru pada dasarnya bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'unversal'.

Apakah ada sesuatu hal yang diturunkan-Nya kepada manusia, yang tidak berwujud 'budaya'?. Jawabannya 'Tidak ada'. Semuanya pasti selalu melibatkan campur tangan manusia. Di lain pihak, Allah bersifat Maha Halus, Maha Gaib (tersembunyi), begitu pula segala tindakan-Nya di alam semesta ini, berupa segala proses kejadian yang bersifat 'mutlak' (pasti terjadi) dan 'kekal' (pasti konsisten).

Orang beriman mestinya tidak mengeluarkan pernyataan seperti itu, karena diragukan apakah ia beriman kepada hal-hal gaib (Allah, para malaikat, ruh, takdir-Nya, Hari Kiamat, alam akhirat, dsb).

m).    Hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat 'relatif' dan 'temporer' di dalamnya, amat berbeda daripada hasil budaya dengan nilai-makna yang bersifat 'mutlak', 'kekal' dan 'universal' di dalamnya. Walaupun semua nilai-makna ini memang pasti berada di balik hal-hal yang tampak, dan sekaligus hasil buatan manusia.

n).   Hanya dari teks kitab suci, seluruh umat manusia bisa mendapat pengajaran dan tuntunan-Nya, dengan relatif paling lengkap dan sempurna. Walaupun tiap umat tentunya bisa memiliki tingkat kedalaman pemahaman yang berbeda-beda atas kitab sucinya, dari yang amat sederhana sampai yang amat mendalam. Di samping itu, juga bisa berbeda-beda tingkat kebenaran dan tingkat integritas pemahamannya. Pemahaman yang relatif paling sempurna tentang kebenaran=Nya, adalah pemahaman yang relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, seperti hanlnya pada para nabi-Nya.

Sama sekali bukan kewajiban bagi tiap umat kepada umat lainnya, untuk 'memaksa' mau mengikuti pemahamannya (walaupun dianggapnya relatif lebih benar dan lebih mendalam sekalipun). Dalam agama Islam, kewajiban itu hanya semata berusaha memberi pengajaran tentang kebenaran=Nya (akan diikuti ataupun tidak), seperti hanlnya yang telah dilakukan oleh para nabi-Nya, dari jaman ke jaman.

o).   Secara batiniah, justru relatif pasti berkurang pula nilai penghargaan seorang umat, terhadap segala nilai-makna yang amat luhur dan mulia, yang terkandung di dalam teks kitab suci, jika ia sendiri menginjak-injak teksnya.

Walaupun hal itu dilakukannya, misalnya hanya karena ia tidak menyetujui dan tidak menghargai makna-makna secara tekstual-harfiahnya, termasuk karena kekecewaannya kepada sebagian umat lainnya, yang justru hanya memahami ajaran-ajaran agama secara tekstual-harfiah. Ibarat sederhananya, terlalu berlebihan jika seorang mahasiswa menginjak-injak buku pelajaran bagi siswa SD, SLTP atau SLTA, hanya karena buku itu telah tidak sesuai lagi baginya. Padahal ia relatif hanya bisa menjadi mahasiswa, setelah membaca buku itu, yang juga masih diperlukan oleh seluruh para siswa yunior.

Begitu pula, mestinya si mahasiswa tidak memaksakan diri untuk mengajari siswa-siswa SD, jika buku-buku teks SD terasa terlalu sederhana baginya. Justru ia mestinya mengajari siswa-siswa yang lebih tinggi tingkatan ilmunya.

p).   Kekecewaan sebagian alim-ulama kepada alim-ulama lain, yang bersifat konservatif atau ortodoks, yang hanya semata memahami ajaran-ajaran agama secara tekstual-harfiah, sama sekali bukan alasan, untuk perlu mengubah-ubah teks kitab sucinya.

Walaupun kekecewaan ini memang amat beralasan, karena makna secara tekstual-harfiah dari teks ayat-ayat kitab suci, adalah hasil pemahaman yang relatif paling sederhana. Termasuk karena penyampaian tiap teks tertulis memang amat tergantung kepada konteks ruang, waktu dan budaya umat, ketika disampaikan.
Sedangkan makna yang sebenarnya (Al-Hikmah) mestinya bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya).

Makna secara tekstual-harfiah itu justru masih amat perlu untuk dipakai, sebagai pengajaran awal dan sementara bagi umat-umat yang awam. Lalu secara alamiah, pemahaman dan maknanya juga relatif akan makin sempurna, sejalan dengan makin bertambahnya pengetahuan umat. Dari segi pengamalannya, justru terus-menerus bisa diperbaiki, melalui hasil-hasil ijtihad dari para alim-ulama di tiap negeri dan jamannya, terutama atas tiap makna secara tekstual-harfiah yang telah tidak sesuai lagi bagi pengamalannya.

Masing-masing alim-ulama memiliki wilayah dakwah tertentu yang sesuai (ada bagi umat yang awam dan bagi umat yang berilmu, dengan berbagai tingkatannya).

Asalkan tiap alim-ulama tidak bersikap berlebihan; tidak merasa paling benar sendiri; terus-menerus mau membuka diri menerima tiap kebenaran-Nya; dan para alim-ulama lainnya tidak amat mudah dituduhnya sebagai sesat (tanpa satupun dalil-alasan yang jelas dan kuat), maka atas ijin-Nya, tiap alim-ulama semacam ini telah berada pada jalan-Nya yang lurus atau benar.

q).   Ada banyak cara bagi tiap umat, untuk mengungkap segala bentuk pemahaman yang dimilikinya, tanpa harus berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an, misalnya melalui pintu 'ijtihad' ataupun melalui pembuatan buku-buku, untuk menyampaikan segala pemahaman yang dimiliki.

Ijtihad adalah sarana yang amat cerdas yang diajarkan dalam agama Islam, yang bisa dipakai oleh para alim-ulama dan umat-umat yang telah relatif tinggi ilmu agamanya, agar ajaran-ajaran agama-Nya bisa terus-menerus tetap aktual, sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia, di tiap negeri dan jamannya, bahkan sampai akhir jaman. Namun karena tiap hasil ijtihad menyangkut kehidupan beragama seluruh umat, maka mestinya juga hanya dilahirkan oleh Majelis alim-ulama di tiap negeri dan jamannya. Tentunya paling ideal, jika tiap hasil ijtihad terlahir berdasar seluruh pemahaman Al-Hikmah terkait, yang telah tersusun relatif lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya.

Dan penyusunan dan penyampaian tiap hasil penafsiran atau ijtihad ini, mestinya dilakukan secara amat hati-hati dan arif-bijaksana, agar tidak pula melahirkan segala fitnah dan kemudharatan, yang jauh lebih banyak daripada kebaikannya.

r).   Relatif hampir tidak ada para alim-ulama terkemuka terdahulu, yang pernah berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

s).   Mestinya tiap umat tetap beriman kepada kitab-kitab-Nya, walaupun tiap umat bisa memiliki tingkat pemahaman yang relatif amat berbeda-beda, atas teks ayat-ayatnya (QS.3:7).

t).     Agama Islam amat berbeda daripada agama-agama lainnya yang telah mengandung kemusyrikan, karena tiap bentuk kemusyrikan justru mustahil diajarkan-Nya.

Segala bentuk kemusyrikan justru pasti berasal dari manusia sendiri. Dengan sendirinya, agama-agama musyrik dan bersifat materialistik, juga pada dasarnya hasil buatan dan hasil campur-tangan manusia, yang umumnya demi pemenuhan berbagai nafsu-keinginan dan kepentingan lahiriah-fisik-duniawinya.
Walaupun ada pula agama-agama musyrik, yang bukan disengaja demi pemenuhan nafsu-keinginan dan kepentingan tertentu, namun karena relatif amat terbatasnya pemahaman pada para penyampainya, atas kebenaran-Nya di alam semesta ini (terutama keterbatasan pemahamannya atas hal-hal gaib dan batiniah), sehingga pemahamannya juga cenderung menjadi bersifat materialistik.

Agama bagi sebagian para penganut kemusyrikan itu, umumnya tidak lebih dari suatu alat-sarana untuk bisa mendapat legitimasi moral, kolektif dan resmi, atas berbagai bentuk pemenuhan nafsu-keinginan dan kepentingan duniawinya. Lalu kebenaran, kesakralan, integritas, validitas dan keotentikan teks kitab sucinya, relatif bukan hal-hal yang terlalu penting bagi mereka, kalau perlu teks kitab sucinya diubah-ubahnya, sesuai keadaan dan kebutuhannya di tiap jamannya. Dan amat ironisnya, dengan tanpa malu-malu dan ragu-ragu, teks kitab suci yang telah diubah-ubahnya itu, justru tetap mereka sebut sebagai 'wahyu-Nya'.

u). Tiap usaha perubahan atas teks kitab suci, sama halnya dengan makin memisahkan (menambah jarak), antara teks kitab suci dan wahyu-Nya. Karena tiap wahyu-Nya justru tidak berdiri sendiri dan terpisah, namun satu kesatuan yang utuh dan lengkap, dengan keseluruhan wahyu-Nya dalam suatu kitab-Nya.

Tiap wahyu-Nya yang berupa ayat kitab-Nya (Al-Kitab / kitab tauhid), adalah tiap 'hasil rangkuman' atas hal tertentu oleh tiap nabi-Nya terkait, berdasar seluruh pemahaman Al-Hikmah di dalam dada-hati-pikirannya, yang telah tersusun dengan relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya, yang diperolehnya melalui perantaraan malaikat Jibril.

Suatu kitab suci juga bukan hanya sebatas teks kitabnya saja, tetapi satu kesatuan yang amat utuh dan erat, dengan segala penjelasan atas contoh pengamalannya (seperti Sunnah / Hadits Nabi) dan juga dengan segala catatan konteks keadaan dan sejarah pada saat penyampaiannya (bahasa, waktu, tempat, budaya, dsb).
Karena dengan hal-hal ini, teks ayat kitab suci bisa lebih dipahami kembali makna yang sebenarnya (Al-Hikmah), yang terkandung di balik teks-teksnya. Maka tiap usaha perubahan atas teks-teks ayat kitab suci, justru relatif pasti akan bisa mengubah pula segala hal terkait lainnya (ayat-ayat lainnya, segala contoh dan penjelasannya, segala catatan konteks keadaan dan sejarah penyampaiannya, dsb).

Lebih parahnya lagi, hasil dari tiap perubahan atas teks kitab suci itu, relatif pasti bisa mengakibatkan nilai-nilai di dalamnya, secara perlahan-lahan bergeser makin menjauh dari nilai-nilai kebenaran-Nya (makin berbeda daripada nilai-nilai yang disampaikan langsung oleh para nabi-Nya, kepada umatnya masing-masing).

v).  'Jika' teks kitab suci memang akan diubah-ubah, misalnya agar makna-makna secara tekstual-harfiahnya bisa dianggap menjadi relatif jauh lebih baik, ataupun relatif lebih mendekati makna-makna yang sebenarnya (Al-Hikmah). Maka kitab suci yang 'baru' justru hampir bisa dipastikan, akan berubah wujud menjadi puluhan buku tebal (menjadi kitab-kitab Hikmah), yang relatif jauh lebih banyak dan tebal, daripada kitab-kitab tafsir yang ada saat ini.

Lebih utamanya lagi, umat hampir bisa dipastikan tidak akan memperoleh bahan pengajaran dan tuntunan-Nya, yang relatif amat mudah bisa dipahami dan diamalkannya (praktis-aplikatif dan aktual), dari kitab suci yang 'baru' itu. Karena dalam kitab suci yang 'baru' itu justru berisi nilai-nilai kebenaran-Nya yang bersifat 'universal' (bisa melewati batas ruang, waktu dan budaya), yang relatif hanya bisa dipahami oleh umat-umat yang berilmu amat tinggi, dan bahkan relatif tidak bisa diamalkan langsung oleh umat, dalam kehidupannya sehari-hari.

Bahkan kitab suci yang 'baru' itupun justru lebih hebat dan ilmiah, daripada seluruh buku ilmu-pengetahuan yang pernah dibuat oleh umat manusia sepanjang masa. Termasuk pasti lebih hebat dan ilmiah, misalnya daripada buku yang dibuat oleh ilmuwan terkenal dunia seperti Albert Einstein. Karena Albert Einstein relatif hanya berhasil bisa mengungkap hal-hal yang bersifat lahiriah. Sedangkan ilmu-ilmu batiniah yang banyak disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, justru relatif jauh lebih rumit daripada ilmu-ilmu lahiriah, karena menyangkut hal-hal gaib dan batiniah, yang tidak bisa diukur dan dibuktikan secara empirik, namun hanya bisa dirasakan dan diyakini secara batiniah.

Al-Kitab (kitab-Nya) bersifat relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual (tidak universal), serta Al-Hikmah bersifat relatif amat rumit, kompleks, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal). Maka relatif amat sulit untuk menyatukan Al-Kitab dan Al-Hikmah, dalam satu atau beberapa buku.

Jauh lebih baik dan bermanfaat, bagi para penggagas dekonstruksi dan desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an, untuk menjadi ahli tafsir atau ahli ijtihad dalam Majelis alim-ulama, agar bisa menerapkan berbagai pemahaman Al-Hikmah yang telah dimilikinya, daripada berusaha mengubah-ubah teks kitab suci Al-Qur'an.

w).     Dalam kitab suci Al-Qur'an cukup banyak disebut bersamaan antara 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' (seperti: QS.2:129, QS.2:151, QS.2:231, QS.3:48, QS.3:79, QS.3:81, QS.3:164, QS.4:54, QS.4:113, QS.5:110, QS.6:89, QS.19:12, QS.33:34 dan QS.62:2). 'Al-Kitab' itu juga biasa disebut 'kitab-kitab-Nya' atau 'kitab-kitab tauhid'. Dari pemisahan 'Al-Kitab' dan 'Al-Hikmah' ini secara sekilas telah menunjukkan, bahwa segala pemahaman yang lebih mendalam bagi tiap umat yang berilmu, justru bukan diperoleh dari 'Al-Kitab', tetapi dari 'Al-Hikmah'.

Namun persoalannya, Al-Hikmah yang seutuhnya dan sebenarnya pada Nabi (segala pemahaman tentang kebenaran-Nya, dalam pikiran Nabi), yang mendasari penyampaian kitab suci Al-Qur'an (Al-Kitab) dan Sunnah-sunnah Nabi, justru sebagian terbesarnya hanya tersimpan di dalam dada-hati-pikiran Nabi.
Sedangkan hanya sebagian kecilnya yang telah pula disampaikannya, relatif hanya terbatas kepada umat-umat yang amat berilmu. Al-Hikmah pada Nabi tentunya hilang bersama dengan wafatnya Nabi.

Namun bagi seluruh umat manusia (terutama bagi umat-umat yang relatif amat berilmu), justru Nabi juga telah menyampaikan Al-Hikmahnya, secara tersirat atau tersembunyi, 'di balik' teks ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an itu sendiri. Sehingga dengan mempelajari kitab suci Al-Qur'an secara utuh dan menyeluruh, umat-umat yang berilmu juga relatif bisa meraih kembali berbagai Al-Hikmah pada Nabi.

Al-Hikmah pada Nabi itu, relatif telah dilupakan oleh sebagian umat Islam saat ini, dan bahkan hanya semata menyamakannya begitu saja, dengan 'Sunnah-sunnah Nabi' ataupun 'Hadits-hadits Nabi' (catatan tertulis atas Sunnah-sunnah Nabi). Padahal sifat-sifat Al-Hikmah berbeda daripada Sunnah Nabi.


Mudah-mudahan, wacana dekonstruksi dan desakralisasi atas kitab suci Al-Qur'an yang disebut-sebut di atas, yang baru mulai berkembang pada sebagian dari kalangan para cendikiawan Muslim ataupun para ahli ilmu agama, justru hanya semata-mata terjadi pada tataran 'pemahaman dan makna', serta sama sekali bukan pada tataran 'teks dan musyaf' kitab suci Al-Qur'an, Juga bukan dengan menginjak-injak teks-teksnya, dan bukan dengan "menukarkan ayat-ayat-Nya dengan harga yang rendah atau sedikit", yang disebut dalam ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an berikut.

"Mereka menukar ayat-ayat-Nya dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia lain) dari jalan-Nya. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu." – (QS.9:9) dan (QS.3:199, QS.2:41, QS.5:44).

Gambaran cara-cara berinteraksi dengan para makhluk gaib

Di dalam berkomunikasi melalui 'suara bisikan'-nya kepada manusia, pada dasarnya ada 2 macam cara berinteraksi dengan para makhluk gaib, yaitu: "interaksi secara terselubung" dan "interaksi secara terang-terangan". "Interaksi secara terselubung" pasti dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, sedangkan "interaksi secara terang-terangan" hanya dialami oleh amat terbatas jumlah manusia, sampai saat ini. Berikut ini diungkap 'gambaran' tentang kedua macam cara berinteraksi, bukan 'bagaimana' cara berinteraksinya.


Ada cukup banyak macam cara berinteraksi antara manusia dan para makhluk gaib (malaikat, jin, syaitan dan iblis), yang dikemukakan dalam berragam sumber, tentang cara-cara berinteraksi dengan para makhluk gaib, yang melalui 'suara bisikan' mereka kepada manusia. Hal ini amat perlu dikemukakan, terutama karena amat berkaitan dengan proses penyampaian wahyu-Nya, dari para malaikat Jibril kepada para nabi-Nya.

Berkaitan dengan 'kejelasan' wujud 'suara bisikan' dari para makhluk gaib itu, maka interaksi antara mereka dan manusia, bisa dikelompokkan menjadi 2 macam cara, yaitu: "interaksi secara terselubung" dan "interaksi secara terang-terangan". Kedua macam cara ini sama-sama hanya berupa interaksi secara batiniah, dimana mereka bisa berbicara atau berkomunikasi dengan tiap manusia, melalui 'suara bisikan' mereka pada alam batiniah ruh manusianya (alam pikirannya). Serta 'suara bisikan' mereka juga sama-sama mengandung hal-hal yang positif-benar-baik (dari para malaikat) dan negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis). Namun dalam "interaksi secara terang-terangan", suara bisikan mereka 'amat jelas' (relatif sama seperti suara manusia biasa) dan komunikasinya berlangsung 'dua arah' (melalui 'hati-pikiran'-nya, manusia bisa berbicara kepada mereka, secara timbang-balik). Sedangkan dalam "interaksi secara terselubung", suara bisikan mereka 'tidak jelas' (amat sangat halus) dan komunikasinya berlangsung 'searah' (hanya semata dari mereka, tidak secara timbang-balik).

Dalam "interaksi secara terselubung" khususnya, 'suara bisikan' mereka (bisikan / suara hati / kata hati), lebih tepat disebut 'godaan', 'ilham' atau 'inspirasi', terutama karena memang jauh lebih luas cakupannya, tidak hanya berupa 'suara' yang amat sangat halus, tetapi juga berupa segala 'bentuk informasi' yang terdapat dalam pikiran manusia, seperti: bunyian, gambar, rasa, emosi ataupun perasaan, pahala dan beban dosa, nafsu-keinginan, memori-ingatan, pemahaman atau pengetahuan, pemikiran, intuisi-logika, dsb. Sedangkan dalam "interaksi secara terang-terangan", 'suara bisikan' mereka juga pada dasarnya lebih luas cakupannya, berupa segala 'bentuk informasi' yang terdengar jelas oleh telinga lahiriah manusia (segala suara dan bunyian). Di dalam interaksi secara batiniah, 'telinga' dan 'mata' tentunya berupa 'hati / kalbu', sebagai alat indera batiniah pada tiap zat ruh makhluk, dan sebagai tempat bagi para makhluk gaib dalam memberikan 'suara bisikan'-nya (ilhamnya).

Tiap ilham itu pada dasarnya berbentuk amat halus, singkat dan sederhana, namun juga bisa terbentuk rangkaian sejumlah ilham terkait (menjadi lebih jelas dan lama, seperti dalam isi khayalan, halusinasi dan mimpi). Juga 'godaan' lebih berkaitan dengan ilham yang bersifat negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis).

"Interaksi secara terselubung" pasti selalu dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, dari sejumlah para makhluk gaib yang memang selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga tiap manusianya, terutama dalam memberikan segala bentuk bisikan-godaan-ilham, yang positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk. Sedangkan "interaksi secara terang-terangan" justru hanya dialami oleh amat terbatas jumlah manusia, sejak jaman dahulu sampai saat ini. Bahkan disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa sebagian dari para nabi-Nya justru telah mengalami "interaksi secara terang-terangan" ini, antara lain: nabi Ibrahim as, nabi Musa as, nabi Isa as, nabi Luth as, nabi Sulaiman as, nabi Muhammad saw, dsb.

Keseluruhan penjelasan di bawah ini sama sekali bukan untuk mengungkap, tentang 'bagaimana' cara untuk bisa ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib. Hal semacam ini berada di luar lingkup pembahasan dalam artikel atau blog ini, serta sebaiknya diperoleh dari berbagai sumber lainnya. Namun artikel/posting sekarang hanya semata bertujuan untuk bisa mengungkap atau memberikan gambaran yang makin jelas, tentang hal-hal yang terjadi dalam kedua macam cara berinteraksi. Sehingga umat Islam diharapkan juga bisa makin jelas mengetahui, tentang berbagai kejadian yang sebenarnya dialami oleh nabi Muhammad saw, ketika menerima wahyu-Nya dari para malaikat Jibril. Sekaligus pula, agar bisa memperjelas uraian terkait dalam artikel/posting terdahulu.

Dan sebagai bahan perbandingan, pada bagian bawah artikel/posting sekarang, juga diungkapkan kembali sejumlah keterangan yang berkembang cukup luas di kalangan umat Islam, tentang keadaan dan kejadian 'luar biasa' yang pernah dialami oleh nabi Muhammad saw, ketika menerima wahyu-Nya. Sekaligus disertai pula dengan uraian pembahasannya, yang menurut pemahaman atau penilaian relatif dari penulis sendiri.

"Interaksi secara terselubung" antara manusia dan para makhluk gaib

Sekali lagi, "interaksi secara terselubung" yang berlangsung amat halus ini (melalui 'suara bisikan' yang amat sangat halus), pasti selalu dialami oleh tiap manusia tiap saatnya, dari sejumlah para makhluk gaib yang memang selalu mengikuti, mengawasi dan menjaga manusianya. Pemberian 'suara bisikan' yang amat sangat halus, yang juga biasanya disebut 'ilham' (positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk), adalah bentuk pemberian pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah. Para makhluk gaib itu memberikan pengajaran, yang selalu mengikuti irama atau kecenderungan arah pikiran tiap manusia, agar relatif tidak mudah dikenal sebagai hasil intervensi dari luar dirinya, yang justru bisa menimbulkan penolakan dan membawa kesia-siaan. Juga agar 'seolah-olah' berasal dari hasil pemikiran manusianya sendiri. Mereka itupun memberikan pengajaran, yang relatif tidak terlalu jauh dari tingkat pemikiran dan kapasitas pengetahuan tiap manusia, agar tidak membawa kesia-siaan pula, karena manusianya memang belum siap menerimanya.

Bentuk pengajaran secara amat halus ('terselubung'), mengikuti arah pikiran, serta relatif tidak terlalu jauh dari tingkat pemikiran dan kapasitas pengetahuan tiap manusia, adalah bentuk pengajaran yang alamiah dan relatif paling efektif dari para makhluk gaib, di dalam berusaha mempengaruhi manusianya, ke arah yang positif-benar-baik atau negatif-sesat-buruk. Serta pengajaran yang bersifat negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis), juga terkadang disebut "ujian-Nya secara batiniah", sedangkan yang bersifat positif-benar-baik (dari para malaikat), juga terkadang disebut "tuntunan-Nya secara batiniah".

"Interaksi secara terselubung" ini bertujuan untuk bisa mengarahkan tiap manusia kepada pikiran, tentang kebaikan, keburukan atau hal-hal lainnya, sebagai bentuk tawaran pengajaran mereka tiap saatnya, dengan cara memanfaatkan tiap 'celah' dalam pikirannya, yang menguntungkan dan yang merugikan. Bahkan tiap kecenderungan arah pikiran yang 'baru' pada tiap manusia tiap saatnya (tiap bentuk ilham), pada dasarnya pasti berasal dari para makhluk gaib. Sedangkan tiap manusia justru hanya tinggal memilih salah-satu atau sebagian dari ilham-ilham itu, untuk dipakainya sebagai bahan pelajaran, dalam menyusun segala bentuk pengetahuannya, dan sekaligus pula dalam menentukan arah kehidupannya, ke arah yang positif atau yang negatif.

Padahal di lain pihaknya, sebagian terbesar dari jumlah umat manusia (umat-umat yang awam), cenderung relatif amat malas untuk mau berpikir. Bahkan pada tiap manusia yang sedang 'malas ataupun tidak' berpikir sekalipun, justru alam pikirannya tetap terus-menerus bisa berjalan, akibat isi pikirannya memang selalu 'diperkaya' oleh para makhluk gaib (pada saat melongo, melamun, mimpi, mengantuk, hilang kesadaran, dsb), dengan tiap saatnya memberikan segala bentuk ilham.

Hal di atas sekaligus membuktikan, tentang amat cerdasnya akal para makhluk gaib itu. Bahkan mereka bisa mengetahui segala pengetahuan dan pengalaman tiap manusianya (lahiriah dan batiniah), tiap saatnya sepanjang hidupnya. Merekapun tentunya amat pintar dalam memanfaatkan pengetahuannya itu semaksimal mungkin, terutama untuk berusaha bisa mempengaruhi manusianya. Hal ini mudah dibuktikan, dengan amat sangat sedikitnya umat manusia yang relatif bisa terhindar dari penyesatan, yang amat kecil, sederhana atau halus sekalipun sepanjang hidupnya, oleh jin, syaitan atau iblis (relatif kecuali bagi orang yang Mukhlis, dengan sikap amat ikhlasnya, termasuk para nabi-Nya).

Hal ini menunjukkan, bahwa tiap manusia mestinya bisa jauh lebih memperhatikan kehidupan dan alam batiniah ruhnya (alam pikiran), agar relatif tidak mudah dipengaruhi dan dipermainkan oleh para makhluk gaib itu, yang memang amat cerdas akalnya dan bisa menyesatkannya. Maka tiap manusia mestinya bisa pula memiliki kepekaan batiniah yang relatif amat tinggi, agar tidak mudah mengikuti, memperturutkan atau menyetujui segala ilham yang negatif-sesat-buruk (dari para jin, syaitan dan iblis). Di lain pihaknya, agar bisa pula lebih mudah memanfaatkan segala ilham yang positif-benar-baik (dari para malaikat), bagi penyusunan tiap pengetahuannya tentang kebenaran-Nya. Hal ini relatif hanya bisa dicapai dengan berusaha keras menggunakan akal secara relatif amat cermat, obyektif dan mendalam, di samping tentunya dengan makin mensucikan ruhnya.

Dan harap baca pula artikel/posting terdahulu "Jagalah hati-pikiran = sempurnakan kehidupan akhirat selama di dunia", tentang berbagai cara untuk bisa memperhatikan atau menjaga kehidupan dan alam batiniah ruh (alam pikiran atau alam akhirat).
"Interaksi secara terang-terangan" antara manusia dan para makhluk gaib

Sekali lagi, "interaksi secara terang-terangan" ini (melalui 'suara bisikan' yang amat jelas), justru hanya dialami oleh amat terbatas jumlah manusia, sejak jaman dahulu sampai saat ini (termasuk sebagian dari para nabi-Nya). Hanya melalui "interaksi secara terang-terangan", manusia yang mengalaminya juga bisa berbicara, berdialog atau berkomunikasi langsung, secara 'dua arah' dengan para makhluk gaib. Karena mereka memang 'berwujud asli' seperti halnya manusia biasa, dengan berbagai 'usia' (dari suara bayi sampai lansia), 'bangsa' (berbagai bahasa) dan 'jenis kelamin' (suara pria, wanita, dan bahkan banci). Hal inipun tentunya hanya diketahui melalui wujud 'suara bisikan' mereka, pada alam pikiran manusianya, dari tiap 'posisi ufuk' (letak horison) dan 'jarak' (dari seolah-olah amat dekat di kuping, sampai amat jauh sekali dan terdengar sayup-sayup).

Adanya perbedaan 'jarak' inilah, yang pada dasarnya membedakan antara interaksi secara terang-terangan dan terselubung. "Interaksi secara terselubung" adalah "interaksi secara terang-terangan", yang terjadi ketika jarak sumber suara bisikannya, sedang relatif amat jauh sekali (suaranya hanya terdengar sayup-sayup). Dengan sendirinya, 'wujud asli' dari tiap makhluk gaib yang menimbulkannya, juga 'tidak jelas'. Tentunya 'jarak' tersebut sama sekali bukan berupa 'jarak fisik', tetapi hanya berupa amplitudo atau kerasnya suara bisikannya (lebih jelasnya, berupa besarnya 'energi' yang dikeluarkan oleh tiap makhluk gaib, dalam bersuara). Hal ini juga sekaligus menunjukkan, bahwa dalam "interaksi secara terang-terangan", tiap makhluk gaib itu memang sengaja mengeluarkan energi yang relatif jauh lebih besar, misalnya karena memiliki 'ketertarikan tertentu' terhadap manusianya.

Adapun beberapa ayat kitab suci Al-Qur'an, yang menunjukkan adanya "interaksi secara terang-terangan", antara nabi Muhammad saw dan malaikat Jibril, misalnya:

"Ucapannya (Muhammad) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya),"

"yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril), yang amat kuat (tiap dalil-alasan-hujjahnya pada wahyu yang dibawanya),"

"yang mempunyai akal yang cerdas. Dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli."

"sedang dia (Jibril) berada di ufuk yang tinggi."

"Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi,"

"maka jadilah dia dekat (kepada Muhammad, sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi)."

"Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad), apa yang telah Allah wahyukan."

"Hatinya (Muhammad) tidak mendustakan, apa yang telah dilihatnya (dengan mata batiniahnya)." – (QS.53:4-11).

Sehingga dialog antara manusia dengan para makhluk gaib, melalui "interaksi secara terang-terangan" ini, adalah dialog 'dua arah', dari hati ke hati, dalam arti yang sebenar-benarnya, walaupun memang relatif 'terbatas'. Karena mereka pasti mengetahui segala hal yang terlintas dalam pikiran tiap manusia, yang sekecil, sesederhana atau sehalus apapun. Bahkan mereka pasti memahami tiap bahasa yang dipakai oleh manusianya, dan juga pasti mengetahui pula isi mimpi manusianya, ketika tertidur. Namun sebaliknya, manusia justru tidak bisa mengetahui isi pikiran mereka, kecuali hanya dengan cara berusaha menelaah dan mencari hikmah dari segala hal yang mereka bisikan. Persis seperti seorang manusia, ketika menelaah pembicaraan atau aktifitas verbal dari semua orang-lainnya di sekitarnya, lalu mengambil pelajaran dan hikmah darinya.

Sehingga pengawasan dari para malaikat itu ('waskat'), pada dasarnya memang ada wujudnya. Seperti disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, tentang adanya malaikat Rakid dan 'Atid, yang bertugas untuk mengawasi dan mencatat tiap amal-perbuatan manusia (yang baik dan buruk). Bahkan mereka bisa mengawasi tiap pikiran manusia, yang amat sangat halus sekalipun. Serta mereka terus-menerus bisa mengawasi kapanpun dan dimanapun manusia berada, tanpa bisa menyembunyikan segala sesuatu halnya. Hal ini tentunya lebih sederhana daripada pengetahuan-Nya, tentang segala amal-perbuatan tiap makhluk-Nya.

Para makhluk gaib itu seolah-olah berada pada kehidupan yang paralel, yang serupa dengan kehidupan manusia di dunia, namun mereka berada di alam batiniah ruh manusia (alam pikiran). Mereka juga bisa bernyanyi, bermain, bercanda-tawa, meledek, berdiskusi, saling menyapa dan memberi salam, dsb, persis seperti halnya segala pembicaraan atau aktifitas verbal manusia. Walaupun hampir semua aktifitas mereka itu, justru relatif hanya berkaitan langsung dengan manusia, yang sedang mereka kunjungi, ikuti, jaga dan awasi.

Kunjungan mereka antara-lain: bisa terdiri dari satu, beberapa atau banyak jumlah makhluk gaib; bisa menetap, sering, jarang atau sesekali; dsb. Bahkan disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, bahwa ketika sedang membaca Al-Qur'an dan shalat, nabi Muhammad saw juga bisa dirubungi atau dikerumuni oleh para makhluk gaib (pada QS.46:29, QS.72:1 dan QS.72:19).

Hal amat penting diketahui pula, bahwa tiap manusia pasti mengalami kegoncangan yang relatif amat dahsyat (ketakutan, susah tidur, amat awas, tegang, berkeringat dingin, dsb), terutama di saat-saat awal kunjungan mereka. Persis seperti gambaran tentang nabi Muhammad saw, ketika awal pertama-kalinya 'bertemu' langsung dengan malaikat Jibril (mulai mengetahui 'wujud asli' dari malaikat Jibril).

Kegoncangan itu terutama terjadi, karena para malaikat (para makhluk gaib), pasti menguji keyakinan batiniah manusianya (pasti menghakiminya secara batiniah), terhadap segala kekeliruan, kesalahan atau perbuatan dosa yang pernah dilakukannya, yang sekecil, sesederhana atau sehalus apapun bentuknya. Bahkan mereka itu juga pasti menguji segala pemikiran, perkataan, sikap dan perbuatan manusianya, yang justru telah dianggap 'benar' menurut manusianya sendiri (diuji segala dalil-alasan-hujjahnya). Kegoncangan batiniah ini dengan sendirinya justru bisa menimbulkan berbagai kekacauan pada tubuh fisik-lahiriah manusianya (panas dingin / demam, sakit perut atau bagian tubuh lainnya, kejang-kejang, susah buang air, susah makan, dsb). Dan hanya tiap manusia yang bisa memiliki keyakinan batiniah yang relatif amat kuat, yang bisa melewati kegoncangan semacam ini.

Adapun gambaran ataupun contoh yang lebih detail dan lengkap, tentang "interaksi secara terang-terangan", diungkap pula di bawah ini.
Gambaran yang lebih detail tentang "interaksi secara terang-terangan"

Berbagai gambaran ataupun contoh yang lebih detail dan lengkap, tentang kejadian dan uraian di sekitar "interaksi secara terang-terangan" antara manusia dan para makhluk gaib, sekaligus digabungkan dengan uraian-uraian di atas, yaitu:
Berbagai gambaran tentang kejadian pada "interaksi secara terang-terangan", antara manusia dan para makhluk gaib

•     Manusia bisa 'berbicara' langsung dengan para makhluk gaib, melalui 'suara bisikan' hatinya pada alam batiniah ruh manusia itu sendiri (alam pikirannya). Persis serupa dengan proses berpikir manusia tiap saatnya, namun dengan cara mengucapkan langsung sesuatu hal kepada mereka, secara batiniah.

Sebaliknya mereka bisa berbicara, seperti orang yang sedang 'berbisik' ke 'telinga' manusianya (lebih tepatnya ke 'hati'). Dan mereka tentunya tidak memiliki wujud fisik-lahiriah, karena memang tidak bisa dilihat melalui mata lahiriah, tetapi hanya semata bisa diketahui atau dirasakan melalui mata batiniah ('hati' atau 'kalbu').

•     Mereka 'berwujud asli' seperti halnya manusia biasa pada umumnya, walaupun hanya diketahui melalui wujud 'suara bisikan' mereka, dengan berbagai hal, seperti: berbagai usia (dari suara bayi sampai lansia); berbagai bangsa (berbagai bahasa); berbagai jenis kelamin (suara pria, wanita, dan bahkan banci); dsb.

Kalaupun mereka 'seolah-olah' memiliki wujud fisik-lahiriah, pada dasarnya hanya berupa gambaran sosok bayangan mereka dalam pikiran, yang kebanyakan justru hanya hasil dari khayalan atau imajinasi manusianya sendiri, atas wujud, intonasi, gaya dan isi dari 'suara bisikan' mereka. Walaupun terkadang mereka sendiri yang memberikan gambarannya (melalui ilham yang berupa gambar).
Contoh sederhananya, jika berupa suara bisikan mereka yang amat berwibawa, lurus dan arif-bijaksana dari seorang kakek, kemungkinan wujud fisik-lahiriahnya dikhayalkan sebagai kakek yang berjenggot, berjubah dan bersurban putih.

•     Suara bisikan mereka itu bisa berasal dari berbagai posisi 'ufuk' (letak horison Bumi, agak tinggi di atas ataupun agak rendah di bawah) dan 'jarak' (seolah-olah dari amat dekat ke 'kuping', sampai amat jauh sekali dan terdengar sayup-sayup).

Dalam menunjukkan 'jarak' ini, terkadang ketika mereka telah selesai berbicara seperti biasa, mereka mengucapkan kalimat "Wassalammu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" selama belasan kali, sambil menjauh secara perlahan-lahan, sampai menghilang suaranya.
Ketika kalimat yang terakhir yang masih bisa terdengar, getaran 'anak tekak' pada manusianya telah paling halus, relatif serupa dengan getaran yang terjadi selama ber-"interaksi secara terselubung" (ketika mereka memberikan ilham-ilhamnya).

Tentunya 'jarak' tersebut sama sekali bukan berupa jarak fisik, namun berupa amplitudo atau kerasnya suara bisikan mereka (lebih jelasnya lagi, berupa besarnya 'energi' yang dikeluarkan oleh tiap makhluk gaib, dalam bersuara).
Dengan amat jelasnya suara bisikan dalam "interaksi secara terang-terangan" ini, tentunya tiap makhluk gaib yang menimbulkannya, juga mengeluarkan energi yang jauh lebih besar, daripada dalam "interaksi secara terselubung".

•     Mereka bisa bernyanyi, bermain, bercanda-tawa, meledek, saling menyapa dan memberi salam, berdiskusi, dsb, yang persis seperti halnya segala pembicaraan atau aktifitas 'verbal' manusia.

Walaupun hampir semua pembicaraan mereka, justru relatif hanya terkait langsung dengan manusia, yang sedang dikunjungi, diikuti, dijaga atau diawasinya.
Di samping itu, pembicaraan mereka juga relatif jauh lebih terbatas daripada pembicaraan manusia (amat singkat, sepotong-sepotong, tidak terfokus / topiknya berubah-ubah, saling bergantian antar mereka / banyak interupsi, dsb).

•     Melalui "interaksi secara terang-terangan", ibarat sederhananya, mereka itu seperti halnya semua manusia lain di sekitar, yang saling berinteraksi dengan seseorang manusia, walaupun hanya melalui 'suara bisikan' (seperti halnya pembicaraan dari balik tembok, ataupun pembicaraan antar orang buta).
Manusia memang hanya bisa mendengar segala bentuk 'suara bisikan' dari mereka, melalui indera batiniah pada zat ruhnya ('hati' atau 'kalbu').

Lebih jelasnya lagi, saat "interaksi secara terang-terangan" ini amplitudo atau keras suara bisikan mereka jauh lebih jelas dan terang, daripada saat "interaksi secara terselubung" (amplitudo atau keras suaranya amat sangat halus).
Maka saat "interaksi secara terang-terangan" ini, 'wujud asli' atau warna suara dari tiap mereka yang sedang berbicara, juga relatif amat jelas (usia, bangsa, jenis kelamin, dsb), sebaliknya saat "interaksi secara terselubung" justru tidak jelas.

•     Mereka 'seolah-olah' berada pada kehidupan yang paralel, yang serupa halnya dengan kehidupan manusia di dunia ini, namun mereka berada pada alam batiniah ruh tiap manusianya (alam pikiran atau alam akhiratnya, serta bersifat gaib).

Juga kehidupan mereka terasa 'lebih ribut atau sibuk' daripada di pasar, terutama karena memang relatif seperti sibuknya proses berpikir manusia.

Walaupun hal ini tentunya belum cukup bisa menggambarkan kehidupan mereka yang sebenarnya di Surga ataupun di alam ruh. Selain itu, juga karena "interaksi secara terang-terangan" ini memang lebih bersifat terbatas (mereka bisa mengetahui segala sesuatu hal tentang manusianya, sebaliknya tidak bisa).
Juga diketahui, mereka selalu dalam keadaan semangat, senang dan gembira selama berbicara, di samping tidak pernah lelah dan tidur.

•     Kunjungan mereka antara-lain: bisa terdiri dari satu, beberapa, ataupun puluhan 'orang' jumlahnya (misalnya bisa diketahui melalui paduan suara atau koor mereka, ataupun saat saling bergantian berbicara).
Juga bisa tiap saatnya (menetap), sering, jarang ataupun sesekali saja.
Khusus bagi mereka yang menetap, mereka hampir pasti bisa langsung muncul berbicara, segera sesaat setelah manusianya 'mengingatnya' (melalui pikirannya).

"Bagi manusia ada malaikat-malaikat, yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah-Nya. …" – (QS.13:11).

•     Manusia hampir pasti akan mengalami kegoncangan yang relatif amat berat atau dahsyat (ketakutan, berkeringat dingin, tegang, susah tidur, amat awas, sering melamun, dsb), terutama di saat-saat awal kunjungan mereka.

Hal ini terutama karena mereka pasti menguji keyakinan batiniah manusianya (pasti menghakiminya secara batiniah), terhadap segala kekeliruan, kesalahan atau perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Bahkan juga mereka pasti menguji segala pemikiran, perkataan, sikap dan perbuatan manusianya, yang justru telah dianggap 'benar' oleh manusianya sendiri (diuji segala dalil-alasan-hujjahnya).
Dan hal-hal di atas tentunya di samping berbagai banyak ragam ujian lainnya (banyak berhalusinasi, banyak bermimpi buruk, dsb).

Kegoncangan batiniah ini dengan sendirinya bisa menimbulkan berbagai kekacauan pada tubuh fisik-lahiriah manusianya (panas dingin / demam, sakit perut atau bagian tubuh lainnya, susah buang air besar, kejang-kejang, susah makan, dsb).

•     Hanya manusia dengan keyakinan batiniah yang relatif amat kuat, yang bisa melewati kegoncangan amat berat, akibat kunjungan mereka. Termasuk pula dalam menhadapi segala bentuk ujian mereka, tiap saatnya selama kunjungan mereka.

Terutama dengan kemampuan akal dan keyakinan hati-nuraninya, karena mereka tidak bisa melangkahi, menipu dan menundukkan akal dan hati-nurani manusia.

Tentunya hati-nurani inipun sulit bisa dipakai, jika telah amat dikotori oleh berbagai perbuatan dosa (terutama dosa-dosa besar, ataupun dosa-dosa kecil yang dilakukan tanpa memiliki sesuatupun dasar alasan pembenaran sama-sekali).

•     Selain melalui 'suara bisikan' yang jelas, mereka sekaligus pula berinteraksi dengan manusia melalui segala bentuk 'ilham' (positif-benar-baik dan negatif-sesat-buruk), berupa segala bentuk informasi yang terdapat dalam benak pikiran tiap manusianya (seperti: bunyian, gambar, rasa, emosi ataupun perasaan, pahala dan beban dosa, nafsu-keinginan, memori-ingatan, pemahaman atau pengetahuan, pemikiran, intuisi-logika, dsb).

Hal ini persis seperti halnya "interaksi secara terselubung", yang pasti dialami oleh tiap manusia tiap saatnya. Namun selama "interaksi secara terang-terangan", justru "interaksi secara terselubung"-nya relatif jauh lebih 'liar dan sibuk' daripada keadaan biasa atau normal, sebelum ada kunjungan mereka.

Disebut lebih 'liar dan sibuk', karena 'suara bisikan' yang amat sangat halus dari mereka (ilham), yang berupa godaan, olok-olokan, cacian, makian, hinaan, dsb, memang relatif jauh lebih banyak terjadi daripada keadaan biasanya.
Sehingga ujian ini bisa terasa amat berat, jika manusianya justru belum memiliki keyakinan atau keimanan yang cukup kuat. Termasuk karena segala bentuk ilham itu memang seolah-olah berasal dari hasil pikiran manusianya sendiri (seolah-olah banyak berpikir buruk).

•     Lebih penting lagi, segala bentuk 'ilham' dari mereka justru amat berperan, dalam segala proses berpikir tiap manusia tiap saatnya. Tiap ilham itu berupa suatu 'potongan amat kecil' informasi batiniah, yang mereka tawarkan, yang bisa ikut memperkaya segala bahan atau informasi bagi proses berpikir manusianya.
Sedangkan segala 'hasil' pemikirannya sendiri pasti tetap berada dalam pilihan, keputusan dan kekuasaan akal dan keyakinan hati-nurani tiap manusianya sendiri (mereka sama sekali tidak bisa memaksa manusianya, untuk memilih hal tertentu).

Tanpa adanya segala bentuk ilham itu, proses berpikir manusia tentunya relatif mustahil bisa berjalan dan berkembang (jumlah informasi yang tiap saatnya bisa diolah oleh akal manusia, menjadi amat sangat terbatas, dan hanya semata berasal dari alat-alat indera lahiriahnya).

Tiap ilham itu memang bisa disebut 'potongan amat kecil' informasi batiniah, karena mereka memang hanya bisa memanfaatkan tiap 'celah amat kecil' tiap saatnya (positif-menguntungkan dan negatif-merugikan), dalam pikiran tiap manusia. Jika tiap manusia makin banyak berpikir dan berbuat positif-terpuji, maka selain celah yang menguntungkan makin banyak (ilham-ilham yang positif-benar-baik makin banyak), juga celah yang merugikan justru bisa makin berkurang (ilham-ilham yang negatif-sesat-buruk makin berkurang). Serupa pula sebaliknya.

•     Mereka bisa mengawasi atau mengetahui segala hal yang sedang 'terlintas' dalam pikiran tiap manusia, yang paling kecil, sederhana atau halus sekalipun ("sebesar biji zarrah"). Dan mereka sama sekali tidak bisa dibohongi atau ditipu.

Mereka terus-menerus mengawasi tiap amal-perbuatan manusia, kapanpun dan dimanapun, tanpa bisa menyembunyikan segala sesuatu halnya. Bahkan mereka juga pasti mengetahui segala bahasa dan segala isi mimpi manusianya.

Hal ini tentunya pasti jauh lebih sederhana daripada pengetahuan Allah, Yang Maha Mengetahui, atas tiap zat ciptaan-Nya.

•     Mereka pada dasarnya relatif tidak terfokus untuk memperhatikan segala urusan, keadaan atau kondisi fisik-lahiriah pada tiap manusianya, namun justru relatif jauh lebih terfokus untuk memperhatikan segala amal-perbuatannya.

Lebih jelasnya, mereka paling terfokus untuk memperhatikan isi pikiran manusianya, yang pasti mendasari segala amal-perbuatannya, antara lain: niat (tauhid, maksud-tujuan dan segala dalil-alasan dalam berbuat), tingkat kesadaran atau pengetahuan, tingkat keimanan, beban tanggung-jawab, tingkat keterpaksaan, beban ujian-Nya, dsb, yang justru semuanya berupa hal-hal batiniah.

Segala urusan, keadaan atau kondisi fisik-lahiriah itu memang bisa berpengaruh, terhadap beban ujian-Nya bagi manusianya. Namun secara batiniah, keadaan yang sama juga bisa berbeda-beda pengaruhnya antar tiap manusia, tergantung sikap sabar, ikhlas, tawakal dan syukurnya masing-masing (terkait tingkat keimanannya).

•     Mereka relatif amat suka menghargai tiap amal-kebaikan, yang paling kecil, sederhana atau halus sekalipun. Sebaliknya mereka relatif amat suka menghakimi tiap amal-keburukan, yang baru ataupun yang telah amat sangat lama dilakukan.

Maka kehadiran mereka yang terjadi tiap saatnya itu (jika mereka menetap), secara 'tidak langsung' justru bisa selalu mengingatkan manusianya, agar makin menghindari segala amal-keburukan, dan sekaligus agar makin banyak berbuat amal-kebaikan, yang sekecil apapun, yang amat diperlukan, jika manusianya sendiri memang ingin mencari ketenangan dan kebahagiaan batiniah.

Hal ini tentunya pasti jauh lebih sempurna, jika tiap manusia tiap saatnya bisa selalu merasakan kehadiran Allah, Yang Maha Mengetahui dan Maha Penyayang.

•     Dialog dengan mereka adalah dialog 'dua arah' dari hati ke hati, dalam arti yang sebenar-benarnya, walaupun relatif terbatas (mereka justru bisa mengetahui segala isi pikiran manusianya, namun tidak sebaliknya).

Manusia hanya bisa mengetahui mereka, hanya dengan cara menelaah segala hal yang mereka bisikan, lalu mengambil pelajaran dan hikmahnya. Persis seperti saat tiap manusia menelaah segala pembicaraan atau aktifitas verbal manusia lainnya.

•     Daya ingat mereka amat hebat, misalnya bisa menyimpulkan segala pengetahuan manusia, sebelum manusianya sendiri bisa menyadari dan menyimpulkannya. Selain itu mereka amat kreatif menggoda, dengan memanfaatkan semaksimal mungkin segala pengetahuannya tentang manusianya.

•     Mereka memiliki 'peranan' seperti halnya manusia, seperti: para orang-tua yang arif-bijaksana, ulama, bapak dan ibu, anak-anak yang shaleh ataupun nakal, pelawak, adik-adik laki-laki dan perempuan yang lucu, wanita dewasa penggoda, banci, preman, polisi, pejabat, bangsawan, dsb, yang tentunya hanya semata dinilai berdasar wujud, intonasi, gaya dan isi suara bisikannya.

Tentunya hal-hal ini bukan mewakili 'peranan' mereka yang sebenarnya di alam ruh atau alam gaib itu sendiri. Namun lebih terkait dengan 'peranan' yang mereka mainkan, ketika mereka berurusan dengan manusia yang sedang dikunjungi.
Terutama karena mereka amat sering mengikuti kecenderungan arah pikiran manusianya, lalu mereka memerankan atau menirukan suara orang-orang yang terlibat dalam pikiran itu (termasuk berupa suara orang-orang yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, yang dikenal oleh manusianya).

Selain dari itu, tentunya ada yang memang berupa suara asli dari mereka sendiri.

•     Mereka biasanya berbicara dengan bahasa sehari-hari pada tiap manusia yang dikunjungi. Walaupun terkadang mereka juga berbicara dengan bahasa-bahasa lain, yang juga telah dikuasai oleh manusianya.

Namun ada pula mereka yang berasal dari berbagai bangsa asing (bersuara pengguna asli bahasa asing, seperti: Arab, Cina / Mandarin, Inggris, dsb), walaupun mereka ini umumnya amat jarang atau hanya sesekali saja berkunjung.

•     Kunjungan mereka (secara keseluruhannya) justru terjadi tiap saatnya relatif tanpa berhenti (selalu ada saja salah-satu dari mereka, yang berbisik atau berbicara).

Kehadiran mereka hanya tidak terasa, jika manusianya sedang amat sibuk dengan kegiatannya, amat berkonsentrasi berpikir, ataupun jika sedang tertidur.
Dan hanya terasa, jika manusianya sedikit-banyak sedang melamun.

•     Atas ijin-Nya, selain mereka bisa ber-"interaksi secara terselubung" dengan manusianya, namun pada 'keadaan tertentu', mereka juga bisa ber-"interaksi secara terang-terangan" (menetap, sering, jarang ataupun sesekali saja).
Dan atas ijin-Nya pula, pada 'keadaan tertentu', "interaksi secara terang-terangan" inipun tentunya bisa berakhir.

Ada pula sebagian dari mereka yang 'mengakui', bahwa mereka telah mengikuti sepanjang hidup manusianya (telah ber-"interaksi secara terselubung", sejak awal kelahiran manusianya ke dunia, sebelum ber-"interaksi secara terang-terangan").

•     Kunjungan mereka secara terang-terangan ini terjadi, bisa karena 'diundang' oleh manusianya sendiri (misalnya dengan sengaja mempelajari ilmu-ilmu gaib), dan bisa pula karena 'tanpa diundang' (misalnya karena mereka kebetulan memiliki 'ketertarikan tertentu' terhadap manusianya, secara positif ataupun negatif).

Serta amat berragam manusia yang pernah mengalami "interaksi secara terang-terangan" ini, dari para nabi-Nya, para wali, manusia umumnya, sampai orang gila.

•     Mereka tidak pernah lelah dan tidur.
Hal ini terutama bisa jelas diketahui dari keadaan mereka, yang tiap saatnya selalu segar, semangat, senang dan gembira dalam berbicara.
Dan bagi mereka yang menetap, juga relatif selalu ada tiap saatnya.

•     Mereka selalu saling bergantian dalam berbicara, sehingga amat jarang bisa terjadi tumpang-tindih.

•     Mereka amat mudah menirukan suara manusia biasa, terutama orang-orang di sekeliling manusia yang dikunjungnya. Hal ini biasanya terjadi di saat-saat awal kunjungan mereka, ketika manusianya sendiri masih mengalami kegoncangan atau kebingungan dalam menghadapi mereka.

Hal ini biasanya bertujuan untuk bisa 'menakut-nakuti' manusianya, terutama atas hal-hal buruk atau kurang menyenangkan yang telah dilakukannya, yang terkait dengan orang-orang di sekeliling tersebut (sebagai suatu bentuk ujian-Nya).

•     Materi pembicaraan mereka persis serupa dengan pada kehidupan manusia sehari-harinya, seperti mengandung: ujian (godaan dan olok-olokan), humor, main-main, petuah, pengajaran, tuntunan, dan segala pembicaraan lainnya.
Jika digambarkan prosentase kasarnya kira-kira: 90% ujian (godaan dan olok-olokan), 1% petuah, pengajaran dan tuntunan, serta 9% hal-hal lainnya.

Sehingga hampir tiap saatnya, manusia selalu mendapat godaan, olok-olokan atau ujian dari mereka, yang menyangkut segala amal-keburukan dan amal-kebaikan, yang telah ataupun sedang dilakukan oleh manusianya.

•     Mereka amat sering mengulang-ulang isi pikiran manusianya, sehingga relatif terasa amat menjengkelkan, serta bisa memakan lebih banyak waktu dalam berpikir, dibandingkan keadaan biasanya. Termasuk karena mereka sering 'menyela' dan 'menambah' isi pikiran manusianya, dengan segala bentuk 'ilham' (positif dan negatif), yang relatif amat mengganggu konsentrasi pikiran.

•     Ujian dari mereka makin terasa, karena secara umum mereka seolah-olah selalu berada dalam posisi 'netral' (pembicaraan mereka selalu bercampur-baur, antara hal-hal yang benar dan yang sesat). bahkan dari tiap salah-satu dari mereka.
Maka relatif tidak jelas, apakah tiap mereka adalah malaikat, jin, syaitan atau iblis.

Dan alam batiniah ruh manusianya seolah-olah diaduk-aduk, dan diacak-acak, juga seolah-olah banyak mengandung segala pembicaraan yang 'relatif' sia-sia.

•     Ujian yang relatif paling berat, adalah penghakiman mereka secara batiniah, atas hampir semua perbuatan dosa atau amal-keburukan, yang pernah dilakukan oleh manusia yang mereka kunjungi.

Penghakiman ini pada dasarnya hanya terjadi atas tiap perbuatan dosa tertentu dan hal-hal terkait yang 'sedang' dipikirkan. Tetapi pikiran tiap manusia justru bisa bergerak atau mengawang amat sangat cepat (mudah berpindah kemana-mana), maka pada akhirnya, hampir semua perbuatan dosanya bisa ikut terhakimi pula, serta sama sekali tanpa bisa disembunyikan atau dihindari.
Bahkan tiap perbuatan dosa yang terlintas atau terkait amat sangat halus sekalipun dalam pikiran manusianya, akan langsung mereka buka dan bahas kembali, serta sekaligus tentunya, merekapun langsung menghakiminya atas perbuatan dosa itu.

Segala perbuatan dosa yang sama sekali tanpa memiliki dasar alasan pembenaran sedikitpun (melanggar segala sesuatu hal, seperti: ayat Al-Qur'an, Sunnah Nabi, petunjuk para ulama, petuah orang-tua, hati nurani, akal sehat, dsb), pasti akan bisa mendapat penghakiman yang relatif amat berat. Selain tentunya berdasar berat beban dari tiap dosa itu sendiri, seperti disebut dalam ajaran-ajaran agama Islam.

Penghakiman ini bisa mengarah kepada berbagai kehilangan keyakinan batiniah, yang relatif cukup parah pada manusianya, akibat tiap perbuatan dosa seperti itu, terutama jika relatif kurang bisa tertutupi oleh berbagai amal-kebaikan terkait ataupun belum bertaubat. Pada keadaan yang relatif amat parah, bahkan akan bisa pula menimbulkan kegilaan.

Dan penghakiman seperti di atas, tentunya relatif jauh lebih sederhana dan lebih ringan daripada penghakiman di Hari Kiamat nanti.

•     Terkait dengan kesukaan mereka dalam menghakimi perbuatan dosa atau amal-keburukan manusianya, dan juga kemampuan mereka menangkap isi pikiran manusia, yang terlintas amat sangat halus sekalipun, maka manusianya justru relatif amat sulit, untuk bisa berusaha melupakan berbagai hal yang justru ingin dilupakannya (biasanya terkait tiap perbuatan dosanya), saat selama "interaksi secara terang-terangan" ini.

Dalam menghadapi hal ini, cara paling aman yang bisa dilakukan oleh manusianya, agar berat beban dosanya terasa relatif lebih ringan (beban rasa bersalahnya lebih berkurang), terutama dengan cara langsung bertaubat, ataupun dengan berusaha menemukan dan mengingat dasar alasan pembenarannya yang lebih kuat (jika ada). Walaupun secara keseluruhannya, segala alasan ini memang tetap tidak bisa membuat suatu perbuatan dosa, bisa menjadi 'bukan' perbuatan dosa (hanya untuk meringankan beban dosanya), apalagi jika telah dilakukan secara berulang-ulang.
Makin sering sesuatu perbuatan dosa diulang-ulang, tentunya makin lemah pula berbagai dasar alasan pembenaran itu bisa menanggung beban dosanya.

Cara lainnya, dengan berusaha mengingat segala amal-kebaikan 'terkait' yang telah dilakukan, yang memiliki nilai amal-kebaikan, yang relatif setara ataupun jauh lebih tinggi daripada beratnya beban dari suatu perbuatan dosa, sehingga relatif bisa cukup 'menutupi' atau 'mengurangi' beratnya beban dosa tersebut.
Jika segala amal-kebaikan seperti itu belum dilakukan, mestinya bisa segera dilakukan, serta jauh lebih baik lagi jika makin sering dilakukan. Hal ini tentunya juga termasuk bagian dari bertaubat.

Dengan cara-cara itu diharapkan bisa makin mengurangi segala siksaan batin (rasa bersalah), yang biasanya terjadi selama ber-"interaksi secara terang-terangan" ini. Hal ini pada dasarnya relatif serupa dengan keadaan, dalam kehidupan normal tiap manusia pada umumnya sehari-harinya, namun di sini justru terasa relatif jauh lebih 'kuat' dan 'detail'.

Selain karena tiap manusianya memang tidak berdialog dengan dirinya sendiri (relatif subyektif dalam menilai perbuatan dosanya). Juga karena mereka itu amat sangat cerdas, termasuk dalam mengorek-orek segala aspek kesalahan manusianya sampai sedetail-detailnya, dalam berbuat suatu dosa.

•     Mereka relatif tidak jelas 'jenisnya' (sulit dipisahkan, antara: malaikat, jin, syaitan dan iblis), terutama karena isi pembicaraan mereka yang memang relatif selalu bersifat 'netral' ('bercampur-baur' antara hal-hal yang benar dan yang sesat). Walaupun mereka terkadang mengaku-aku sebagai ini dan itu, bahkan juga termasuk mengaku-aku sebagai arwahnya para nabi-Nya, arwah para leluhur dan manusia biasa lainnya.

Dalam menghadapinya, manusia sebaiknya tidak terlalu mempercayai pengakuan semacam ini (anggap saja sebagai angin lalu), termasuk karena mereka amat mudah meniru suara orang-orang yang dikenal (orang-tua, saudara, tetangga, teman, dsb).
Jauh lebih penting, agar hanya semata menilai "tingkat kebenaran" dari hal-hal yang mereka bicarakan, 'tiap saatnya', serta sama sekali bukan menilai jenis, nama-sebutan ataupun pengakuan mereka (yang justru tidak bisa dibuktikan).

Maka definisi 'jenis' dari para makhluk gaib yang lebih tepat, yaitu: 'Malaikat' adalah makhluk gaib yang 'sedang' menyampaikan hal-hal yang bersifat positif-benar-baik; 'Jin' adalah makhluk gaib yang 'sedang' menyampaikan hal-hal yang relatif bersifat netral; 'Syaitan&#39 adalah makhluk gaib yang 'sedang' menyampaikan hal-hal yang bersifat negatif-sesat-buruk; dan 'Iblis&#39 adalah makhluk gaib yang 'sedang' menyampaikan hal-hal yang bersifat paling negatif-sesat-buruk.
Pengelompokan 'jenis' dari para makhluk gaib yang disebut dalam kitab suci Al-Qur'an, pada dasarnya juga melalui penilaian atas "tingkat kebenaran" dari hal-hal yang 'sedang' mereka sampaikan, 'tiap saatnya'.

Selain dari itu, seluruh para makhluk gaib yang bertugas 'di luar' alam pikiran manusia (tidak bertugas memberikan segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah, kepada tiap manusia), dalam mengurus segala urusan-Nya yang lainnya di seluruh alam semesta ini, tentunya juga biasanya disebut 'malaikat'.

Sebagian dari mereka memiliki nama panggilannya sendiri (seperti nama-nama manusia biasa), tetapi mereka juga bersedia, jika diberikan nama panggilan.

•     Jika datang dan pergi terkadang mereka mengucapkan "Assalammu 'alaikum" dan "Wassalammu 'alaikum". Hal-hal ini biasanya terjadi di saat-saat tengah malam.

Mereka sering ikut manusia melakukan shalat (membaca bacaan shalat), membaca dua kalimat syahadat ("Laa ilaaha illallaah, Muhammadar rasulullaah"), dan juga amat fasih membaca ayat-ayat kitab suci Al-Qur'an.

Mereka juga amat sering mengingatkan manusianya, untuk melaksanakan shalat.

•     Telah diajarkan oleh nabi Muhammad saw, agar umat Islam banyak melakukan shalat malam (tahajud), pada 1/3 malam yang terakhir (kira-kira jam 2 s/d 4 subuh dini hari).
Ternyata di saat-saat ini, kedatangan mereka memang justru banyak membawa hikmah dan hidayah-Nya, serta memang hampir tidak ada lagi segala hal yang mengganggu konsentrasi atau kekhusu'an, dalam bertafakur dan beribadah.

•     Secara umumnya, kehadiran mereka relatif amat mengganggu, jika tidak dimiliki kesabaran dan keyakinan (keimanan) yang amat tinggi, terutama karena kehadiran mereka ini semacam suatu tambahan bentuk ujian-Nya. Maka manusia mestinya relatif cukup cerdas, untuk bisa mengambil hikmah dari tiap 'isi bisikan' mereka.

Namun sebaliknya, mereka justru bisa amat memperkaya wawasan dan isi pikiran manusianya, dengan segala bentuk pengajaran. Terutama karena mereka memang amat sangat cerdas akalnya, bahkan termasuk mereka yang masih berusia balita dan anak-anak sekalipun. Dari segala pengajaran mereka juga memungkinkan, untuk makin banyak memperoleh hidayah.
Padahal kenyataannya pula, seorang manusia memang relatif akan bisa banyak mendapat tambahan pengetahuan, jika ia banyak bergaul, dengan orang-orang lainnya yang amat pintar dan cerdas.

Tentunya hal itu bisa terjadi, hanya semata jika manusianya sendiri memang mau berusaha keras menggunakan akalnya, karena tiap hikmah dan hidayah itu justru bukan diperoleh dalam 'bentuk jadi' atau 'siap pakai', namun dalam bentuk 'mentah' yang harus diolah terlebih dahulu, melalui akal-pikiran manusianya sendiri.

Sekali lagi perlu diingat, bahwa segala bentuk pengajaran dari mereka justru selalu bercampur-baur, antara hal-hal yang benar dan yang sesat (relatif selalu bersifat netral). Sehingga hal-hal yang mereka bicarakan, secara umum bukan hal-hal yang terasa penting. Namun jauh lebih penting untuk bisa dipahami, justru hal-hal yang 'tersirat', 'terkandung' atau 'tersembunyi' di balik segala pembicaraan mereka.

•     Amat penting diketahui pula, bahwa sebagian terbesar dari hikmah dan hidayah justru bukan diperoleh melalui "interaksi secara terang-terangan" (suara bisikan mereka amat jelas), tetapi justru melalui "interaksi secara terselubung" (suara bisikan mereka amat sangat halus), yang juga telah biasa dikenal sebagai 'proses berpikir' manusianya sendiri.

Walaupun melalui "interaksi secara terang-terangan" memang bisa timbul berbagai pemahaman yang relatif jelas, tentang ruh, para makhluk gaib dan kehidupannya di alam ruh, kehidupan batiniah ruh manusianya sendiri (kehidupan akhiratnya), dsb.

Hal ini mudah dipahami, karena "interaksi secara terang-terangan" berjalan relatif amat sangat lambat (secepat pembicaraan manusia), sedangkan "interaksi secara terselubung" berjalan relatif amat sangat cepat (secepat proses berpikir manusia). Sehingga pada "interaksi secara terselubung", justru pasti jauh lebih banyak pula segala bentuk pengajaran dari mereka (ilham-ilham), yang bisa diolah melalui akal-pikiran manusianya sendiri.

•     Kehadiran mereka melalui "interaksi secara terang-terangan", sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidur dan mimpi, karena interaksi ini justru hanya terjadi tiap saatnya, ketika manusianya sedang dalam keadaan 'sadar' (bukan pula kesadaran ketika sedang bermimpi). Walaupun terkadang juga bisa terjadi 'sekilas', ketika manusianya dalam keadaan sedang mengantuk, akan tertidur ('setengah sadar').

"Interaksi secara terang-terangan" ini juga sama sekali tidak ada hubungannya dengan 'sugesti'. Karena 'sugesti' adalah salah-satu bentuk ilham yang mereka berikan kepada manusianya, dalam "interaksi secara terselubung".

•     Hanya melalui "interaksi secara terang-terangan" ini, manusianya relatif banyak bisa memahami, tentang hal-hal yang gaib (termasuk pula oleh sebagian dari para nabi-Nya), termasuk dalam memahami interaksi yang paling mendasar, antar ruh sesuatu makhluk dan ruh makhluk lainnya. Walaupun semua hal itu justru mestinya tetap didukung, melalui penggunaan akal-pikiran oleh manusianya sendiri.

Di samping tentunya, manusia juga bisa memahami, tentang 'wujud asli' dari para makhluk gaib (berbagai usia, bangsa, jenis kelamin, dsb), yang memang serupa dengan 'manusia sempurna', namun sama sekali tanpa tubuh fisik-lahiriah (gaib).

Amat penting pula, manusia bisa memahami, tentang bagaimana cara para makhluk gaib dalam memberikan segala pengajaran dan ujian-Nya secara batiniah, kepada tiap manusianya, tiap saatnya.

Sekali lagi, hakekat dan hasil dari "interaksi secara terang-terangan" ini, secara umum pada dasarnya bersifat 'netral'. Manusia yang telah mengalaminya justru sama-sekali tidak bisa dianggap diuntungkan, dan sebaliknya juga tidak dirugikan. Karena manusianya selain mendapat pengajaran, namun juga mendapat ujian (ada yang benar, namun ada pula yang sesat; ada yang menyenangkan, namun ada pula yang menyusahkan; dsb).

Semuanya hanya tetap kembali pada manusianya sendiri, untuk bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari "interaksi secara terang-terangan" ini. Karena interaksi inipun pada dasarnya relatif serupa dengan interaksi antara tiap manusia dengan manusia lainnya, yang telah bertambah pula jumlah dan macam tingkah-polahnya (baik dan jahat, benar dan sesat, tua dan muda, pria dan wanita, dsb).

Ketika menghadapi "interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib, yang bisa terdiri dari berbagai kelompok umur (dari bayi sampai lansia), bangsa dan jenis kelamin (pria, wanita, dan bahkan banci), maka satu-satunya cara yang 'paling aman' bagi tiap manusia, adalah dengan memiliki segala kepercayaan atau keyakinan diri yang relatif amat kuat. Khususnya dengan semaksimal mungkin bisa menjaga dan membangun segala akhlak, budi-pekerti dan perbuatan yang positif-terpuji, seperti yang diajarkan di dalam ajaran-ajaran agama Islam (dengan banyak melakukan segala amal-kebaikan dan banyak menghindari segala amal-keburukan), sambil banyak menggunakan akal-sehatnya, sesuai dengan kapasitas pengetahua dan tingkat pemikirannya masing-masing.

Hal itu diperlukan agar tiap manusia bisa percaya diri, dan relatif amat memuaskan bisa menjawab segala ujian dan penghakiman secara batiniah dari para makhluk gaib itu. Jika hal ini berhasil dilakukan, bahkan ia justru bisa membina hubungan yang relatif amat harmonis, dengan para makhluk gaib itu.

Hal ini pada dasarnya juga persis serupa, ketika tiap manusia menghadapi seluruh manusia lainnya di sekitarnya. Ia akan bisa mendapat pujian atau penghormatan, jika telah berbuat kebaikan, dan sebaliknya bisa mendapat cercaan, penistaan atau penghinaan, jika telah berbuat amal-keburukan.

Namun hal yang relatif jauh lebih rumit justru terjadi pada "interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib itu, karena merekapun pasti bisa mengetahui segala pengetahuan ataupun segala hal yang sedang dipikirkan oleh tiap manusia yang diikutinya (bukan hanya berupa segala amal-perbuatan lahiriah, yang memang justru mudah tampak oleh manusia lainnya). Dengan sendirinya tiap manusia mestinya juga bisa menjaga segala pikirannya, agar relatif selalu berpikir hal-hal yang positif-benar-baik, sekaligus tentunya sambil memperbanyak amal-kebaikan dan makin mengurangi amal-keburukannya.

Amat mudah bisa dimengerti pula, jika nabi Muhammad saw bisa jauh lebih terjaga segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan positif-terpujinya tiap saatnya sehari-harinya, termasuk karena telah ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril), hampir tiap saatnya, sejak saat malaikat Jibril pertama-kalinya mendatanginya (bukan hanya sesekali ataupun beberapa kali saja). Sehingga seolah-olah juga ada 'waskat' terhadap Nabi (pengawasan malaikat).

Tentunya jauh lebih sempurna lagi daripada 'waskat' tersebut, adalah karena Nabi selalu bisa merasakan langsung 'kehadiran Allah', Yang justru tiap saatnya juga pasti selalu menyaksikan segala pikiran, perkataan, sikap dan perbuatannya (dalam tiap tarikan napas dan detak jantungnya).

Sedangkan akhlak itu sendiri (sikap batiniah terhadap sesuatu hal), yang terwujud secara lahiriah ataupun batiniah, bisa meliputi akhlak kepada: Allah, segala makhluk-Nya (makhluk nyata dan gaib) dan bahkan segala benda mati. Maka ketika tiap manusia sedang ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib itu, akan makin kentara pula perlunya akhlak positif-terpuji kepada mereka.

Hal ini tentunya serupa dengan akhlak tiap manusia kepada manusia lainnya, tetapi hanya berbeda pada bentuk ataupun wujud dari akhlak yang jauh lebih diperlukan, yaitu: berwujud lahiriah (kepada manusia) dan berwujud batiniah (kepada para makhluk gaib). Tentunya jauh lebih diperlukan lagi, adalah akhlak positif-terpuji kepada Allah, Yang telah menciptakan manusia dan alam semesta ini (akhlak yang berwujud lahiriah dan batiniah).

Dan penting diketahui pula, bahwa segala akhlak, budi-pekerti dan kebiasaan yang positif-terpuji, yang mestinya perlu untuk dimiliki oleh tiap umat Islam, sama sekali bukan karena bisa bermanfaat bagi Allah dan segala makhluk-Nya lainnya. Namun justru untuk bisa bermanfaat bagi pembangunan kehidupan batiniah ruh umat itu sendiri, yang relatif jauh lebih baik, hakiki dan bersifat kekal (kehidupan akhiratnya).
Keadaan Nabi saat menerima wahyu dari malaikat Jibril

Dalam kitab suci Al-Qur'an ataupun berbagai riwayat terdapat sejumlah keterangan tentang keadaan dan kejadian 'luar biasa', ketika nabi Muhammad saw sedang menerima wahyu-Nya dari malaikat Jibril. Hal ini juga pada dasarnya sejumlah keterangan, tentang berbagai keadaan seseorang, ketika sedang ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib, seperti yang telah diuraikan pula di atas, serta sekaligus ketika sedang bertafakur (berpikir), untuk bisa memperoleh pengetahuan tentang kebenaran-Nya, yang bernilai kemuliaan relatif amat tinggi (Al-Hikmah atau wahyu-Nya).

"Demi Kitab (Al-Qur`an) yang menjelaskan,"

"sesungguhnya, Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya, Kami-lah yang memberi peringatan."

"Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,"

"(yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah yang mengutus rasul-rasul," – (QS.44:2-5).

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur`an), pada malam kemuliaan."

"Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?."

"Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

"Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril, dengan ijin Rabb-nya untuk mengatur segala urusan."

"Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." – (QS.97:1-5).

Dan harap baca pula artikel/posting terdahulu "cara proses diturunkan-Nya wahyu kepada para nabi-Nya", tentang hubungan antara para malaikat Jibril, akal, hati-nurani, pengetahuan, Al-Hikmah, Al-Kitab, wahyu dan kenabian pada para nabi-Nya. Serta baca pula artikel/posting terdahulu "metode pencapaian pemahaman Al-Hikmah".

Tetapi agak menguatirkan, atas adanya pernyataan dari beberapa ilmuwan Muslim, tentang segala keadaan dan kejadian 'luar biasa' yang pernah dialami oleh nabi Muhammad saw, antara lain: "hal-hal yang amat sangat sulit bisa diterima oleh akal-sehat manusia itu, telah membuktikan, bahwa nabi Muhammad saw memang benar-benar telah menerima wahyu dari Allah." dan juga "keadaan dan kejadian penerimaan wahyu-Nya, berada di luar jangkauan penalaran akal manusia".

Selain pernyataan itu sendiri tidak memiliki dasar alasan yang kuat, karena manusia saat ini yang juga bisa mengalami hal yang serupa, tentunya pasti bukan sedang menerima wahyu (hal-hal itu bukan 'tanda' bagi proses penerimaan wahyu-Nya). Juga menunjukkan, bahwa para ilmuwan itu belum benar-benar memahami, tentang hakekat dari wahyu-Nya dan kejadian yang sebenarnya, ketika diturunkan-Nya melalui perantaraan malaikat Jibril. Termasuk mereka mungkin belum pernah ber-"interaksi secara terang-terangan", dengan para makhluk gaib. Walaupun sekali lagi, interaksi seperti ini juga bukan 'tanda' bagi proses penerimaan wahyu-Nya (dialami oleh amat terbatas jumlah manusia, sejak jaman dahulu sampai saat ini). Di samping pernyataan itu sendiri juga bisa amat menyesatkan, walaupun mungkin tanpa mereka sengaja dan tanpa menyadarinya langsung. "Apakah agama Islam (proses turunnya dan ajaran-ajarannya), memang benar-benar jauh dari akal-sehat (tidak rasional), atau sebaliknya justru mestinya sesuai dengan akal-sehat (rasional)?".

Di samping dari berbagai uraian di atas, tentang "interaksi secara terang-terangan" antara manusia dan para makhluk gaib, di bawah ini juga diungkap secara ringkas, bahwa berbagai keadaan dan kejadian 'luar biasa' itu justru bisa dijelaskan dengan akal-sehat. Dan tiap kejadian 'luar biasa' itu justru kejadian-kejadian yang sebenarnya terjadi secara amat alamiah, walaupun memang tidak dialami oleh tiap umat manusia (hanya dialami oleh amat terbatas jumlah manusia). Bahkan wahyu-Nya justru diterima oleh para nabi-Nya, melalui akal dan hati-nuraninya, selain melalui perantaraan malaikat Jibril.

Sejumlah keterangan tentang keadaan dan kejadian 'luar biasa' yang pernah dialami oleh nabi Muhammad saw, ketika menerima wahyu-Nya, seperti misalnya:
Berbagai keadaan dan kejadian pada nabi Muhammad saw,
saat menerima wahyu-Nya
a.     Terkadang seperti bunyi lonceng, ketika diperoleh sesuatu wahyu yang amat dahsyat (amat tinggi nilainya).
b.     Nabi merasa kedinginan dan dahi penuh keringat.
c.     Wajah Nabi kemerahan dan bernapas sambil ngos-ngosan.
d.     Nabi kebingungan, gemetar dan ketakutan.
e.     Ada perubahan psikologis Nabi, selama menerima wahyu.
f.     Cara berbicara Nabi dan sikap lainnya tetap seperti biasa.
g.     Malaikat berkunjung dalam jelmaan manusia.
h.     Nabi bisa mengulangi ataupun bisa memahami berbagai hal yang dikatakan oleh malaikat Jibril.
i.     Nabi mendiktekan wahyu kepada para pengikutnya, yang sedang mencatatnya.
j.     Wahyu terkadang bisa turun langsung, ketika ada umat yang menanyakan sesuatu hal kepada Nabi.
k.     Tidak pernah diketahui pasti kapan dan dimana turunnya wahyu.
l.     Terkadang turunnya wahyu terjadi secara spontan.
m.     Malaikat Jibril berkunjung tiap tahun.
n.     Malaikat Jibril berkunjung tiap malam, selama bulan Ramadhan.

Apabila dibahas dan diambil kesimpulan dari sejumlah keterangan tentang keadaan dan kejadian di atas, maka bisa pula diungkap, antara-lain:
Berbagai pemahaman atas kejadian pada nabi Muhammad saw,
saat menerima wahyu-Nya

1.   Tiap wahyu dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, adalah tiap pemahaman Al-Hikmah, di antara keseluruhan bangunan pemahaman Al-Hikmah pada para nabi-Nya, yang telah tersusun secara relatif amat sempurna (relatif amat lengkap, mendalam, konsisten, utuh dan tidak saling bertentangan secara keseluruhannya).

Namun wahyu yang disampaikan kepada umat kebanyakan, justru jarang yang berupa Al-Hikmah, melainkan umumnya berupa ayat-ayat Al-Kitab, termasuk Sunnah-sunnah sebagai contoh pengamalannya.
Hal ini terutama karena tiap Al-Hikmah bersifat amat rumit, kompleks, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal). Sedangkan tiap ayat Al-Kitab dan Sunnah justru bersifat amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual (tidak universal).
Tiap Al-Hikmah umumnya disampaikan relatif hanya terbatas kepada umat-umat terdekat yang telah amat berilmu.

Ayat-ayat Al-Kitab dan Sunnah-sunnah justru timbul berdasar segala pemahaman Al-Hikmah yang berada dalam dada-hati-pikiran para nabi-Nya, serta merupakan hasil-hasil 'rangkuman' atas segala pemahaman Al-Hikmah itu, tentang berbagai halnya bagi penerapan aktualnya, terutama dalam menjawab atau mengatasi segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat manusia sehari-harinya, yang paling penting, mendasar dan hakiki (hal-hal gaib dan batiniah).

2.    Hanya melalui 'bertafakur' (berpikir dengan penuh kesadaran, agar bisa memahami tiap kebenaran-Nya), tiap manusia bisa memperoleh pemahaman, tentang segala sesuatu hal di alam semesta ini (lahiriah dan batiniah), termasuk berupa tiap pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah) dan berupa tiap hasil pengungkapannya (ayat Al-Kitab).
Bertafakur bisa dilakukan saat duduk, berdiri dan berbaring.

3.   Turunnya wahyu yang berupa Al-Hikmah (dari malaikat Jibril kepada Nabi), terjadi saat setelah Nabi selesai bertafakur.
Sedangkan turunnya wahyu yang berupa Al-Kitab (dari Nabi kepada umatnya), terjadi saat setelah Nabi selesai bertafakur, ataupun saat Nabi menyampaikan hasil dari bertafakur sebelumnya, yang belum tersampaikan.

4.   Terkadang saat turunnya wahyu, juga bisa disaksikan oleh: para sahabat; para istri; para pengikut yang langsung mencatat dan menghapal wahyu itu; ataupun umat-umat lainnya.

5.   Umat-umat yang relatif amat tinggi keimanannya pasti bisa amat tersentuh hati-sanubarinya, ketika telah memahami suatu hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah).

Bahkan segala keadaan tubuh-fisik-lahiriahnya bisa terpengaruh pula (misalnya: kedinginan, penuh keringat, wajah kemerahan, napas ngos-ngosan, kebingungan, ketakutan, dsb), terutama jika Al-Hikmah itu memang relatif amat tinggi dan luhur nilai kemuliaannya.

Karena hal itu telah bisa 'menohok atau menyentak' hati-sanubarinya, yang relatif amat halus dan peka, dengan relatif amat kuat (ibaratnya seperti mendengar bunyi lonceng, yang nyaring dan menyentak).

6.   Saat turunnya wahyu, Nabi bukan seperti orang yang kesurupan atau kerasukan, namun sedang dalam keadaan penuh kesadaran saat bertafakur.

7.   Para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril) hanya bisa hadir di alam batiniah ruh manusianya (alam pikirannya), dengan berinteraksi secara terang-terangan ataupun secara terselubung.

Para makhluk gaib berinteraksi dengan manusia, terutama dalam memberikan segala bentuk ilham yang positif-benar-baik (terkandung nilai-nilai kebenaran-Nya, dari para malaikat) ataupun yang negatif-sesat-buruk (terkandung nilai-nilai kesesatan, dari para jin, syaitan dan iblis).

8.   Malaikat Jibril terkadang menyampaikan wahyu, sambil menunjukkan 'wujud asli'-nya di alam batiniah ruh Nabi (melalui "interaksi secara terang-terangan").

9.   Para makhluk gaib (termasuk malaikat Jibril) selamanya pasti tetap berwujud 'gaib' (mustahil terlihat melalui mata lahiriah, namun hanya terlihat melalui mata batiniah manusia – hati / kalbu).

Padahal jika bisa terlihat melalui mata lahiriah, mestinya orang-orang yang bersama-sama Nabi ketika turunnya wahyu, juga pasti bisa ikut melihat malaikat Jibril, sedangkan tidak pernah ada keterangan yang mengungkap hal ini.

10.     Istilah 'jelmaan' manusia misalnya (bagi para makhluk gaib yang sedang 'turun' ke dunia ini), bukan berarti harus persis seperti manusia biasa, dalam 'segala halnya', namun justru bisa hanya 'sebagian' saja.

Lebih jelasnya lagi, para makhluk gaib yang sedang ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan manusia, memang 'berwujud asli' persis seperti halnya manusia biasa (dengan berbagai usia, bangsa, jenis kelamin, dsb), yang diketahui berdasar wujud 'suara bisikannya'. Tetapi mereka sama-sekali tidak memiliki segala atribut 'fisik-lahiriah', seperti halnya manusia biasa.
   
11.   Hal-hal gaib memang relatif amat sulit bisa diungkap, melalui bahasa manusia sehari-harinya.

Nabi menerangkan hal-hal gaib hampir pasti hanya memakai segala bentuk 'contoh-perumpamaan simbolik' (jelmaan manusia; bunyi lonceng; posisi ufuk; wahyu dan malaikat 'turun'; sejarak busur panah; dan banyak lagi lainnya), terutama agar bisa menyederhanakan dan meringkas penjelasannya, yang sebenarnya relatif amat rumit dan kompleks, yang juga hampir mustahil bisa diungkap seluruhnya melalui kitab suci Al-Qur'an dan Sunnah-sunnah Nabi.

Namun dari sejumlah keterangan di atas, ada sesuatu hal yang juga belum tampak diungkap, yaitu: jarak waktu antara saat diterimanya wahyu oleh Nabi dari malaikat Jibril, dan saat disampaikan oleh Nabi kepada umatnya. Kedua waktu ini mestinya agak berbeda, karena wahyu-Nya yang dari malaikat Jibril, dan wahyu-Nya yang disampaikan oleh para nabi-Nya kepada umatnya, juga relatif berbeda.

Wahyu-Nya 'jenis pertama' (berupa pemahaman Al-Hikmah – hikmah dan hakekat kebenaran-Nya), yang diperoleh para nabi-Nya dari hasil pengajaran para malaikat Jibril, pada dasarnya bersifat amat rumit, kompleks, mendalam, tidak praktis-aplikatif dan tidak aktual (universal). Sedangkan wahyu-Nya 'jenis kedua' (berupa ayat-ayat Al-Kitab), yang telah disampaikan atau diucapkan oleh para nabi-Nya kepada umat-umat kaumnya, pada dasarnya bersifat amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual (tidak universal), sesuai dengan segala keadaan, kebutuhan, tantangan dan persoalan kehidupan umat.

Sehingga relatif diperlukan waktu, untuk bisa 'mengolah' atau 'merangkum' seluruh pemahaman hikmah dan hakekat kebenaran-Nya (Al-Hikmah), menjadi berbagai bahan pengajaran dan tuntunan-Nya, yang relatif amat ringkas, sederhana, praktis-aplikatif dan aktual (ayat-ayat Al-Kitab, termasuk Sunnah-sunnah sebagai contoh pengamalannya).

Dan harap baca pula artikel/posting terdahulu "empat macam bentuk wahyu", serta topik "keterbatasan bahasa tulisan dalam penyampaian wahyu-Nya".

Bahkan dari berbagai kesimpulan di atas justru cukup tampak, bahwa penerimaan wahyu-Nya pada dasarnya serupa dengan perolehan segala bentuk pengetahuan manusia (dengan akalnya). Perbedaannya justru hanya semata pada tingkat kebenaran, kemuliaan dan kesempurnaan dari pengetahuannya (wahyu-Nya juga sesuatu bentuk pengetahuan). Tentunya penerimaan wahyu-Nya juga mengikuti intuisi-logika-nalar akal-sehat manusia. Para nabi-Nya adalah orang-orang yang relatif paling berpengetahuan dan paling banyak memiliki pengalaman batiniah-rohani-spiritual, di antara seluruh umat manusia pada tiap jamannya masing-masing.

"Di luar jangkauan", "tidak bisa" atau "mustahil" dinalar oleh akal-pikiran manusia, amat berbeda daripada "sukar" atau "sulit" dinalar, yang hanya tergantung kepada tinggi tingkat pengetahuan pada tiap manusianya. Wahyu-Nya dan proses penerimaannya justru pasti bisa pula dinalar, walaupun akal-pikiran manusia memang relatif "sukar" atau "sulit" bisa menjangkaunya, jika belum memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup luas, memadai dan mendalam.

Mustahil para nabi-Nya tidak bisa mengerti atau memahami tiap wahyu-Nya, yang telah diperolehnya dari para malaikat Jibril. Bahkan tentunya juga mustahil para nabi-Nya bisa mengajarkan suatu hal kepada umatnya, tanpa dimilikinya sama-sekali pengetahuan atau pemahaman tentang hal itu (dengan akal-pikirannya), beserta segala dalil-alasan dan penjelasannya. Di lain pihak, tentunya mustahil umat-umatnya bisa memahami, meyakini dan mengikuti berbagai ajaran dari para nabi-Nya, jika memang tidak bisa dinalar ataupun diterima oleh akal-sehatnya.

Tentunya juga mustahil para nabi-Nya bisa memperoleh sesuatu hal (wahyu-Nya), dengan segala 'cara' yang sama sekali tidak bisa dialami oleh manusia biasa lainnya. Bahkan para nabi-Nya memang hanya manusia biasa, dari segi 'zatnya' (beserta segala alat-sarana dan prasarana pada tubuh fisik-lahiriahnya). Maka bukan cara perolehannya yang berbeda antara wahyu-Nya dan pengetahuan (segala alat-sarana yang dipakai sama), namun justru hanya semata berbeda pada "apa yang telah diperoleh" dan "apa usaha setimpal yang telah dilakukan", untuk bisa memperolehnya.

Bahwa para nabi-Nya adalah orang-orang yang relatif paling keras atau luar biasa usahanya, dalam mencari, mengamati atau mempelajari kebenaran-Nya di alam semesta ini, terutama tentang segala hal yang paling penting, mendasar dan hakiki bagi kehidupan seluruh umat manusia (hal-hal gaib dan batiniah). Dengan begitu, merekapun relatif paling sempurna bisa memahami berbagai kebenaran-Nya, di antara seluruh umat manusia pada tiap jamannya. Dan seperti halnya yang telah diungkapkan di atas, bahwa proses perolehan pemahaman para nabi-Nya tentang kebenaran-Nya (Al-Hikmah atau wahyu-Nya), justru juga melalui akal dan hati-nurani mereka, selain melalui perantaraan para malaikat Jibril.

Juga mereka relatif amat keras usahanya, dalam mengamalkan segala pengetahuan atau pemahamannya itu secara relatif amat konsisten, sekaligus dalam menyampaikannya kepada seluruh umat manusia lainnya, untuk bisa pula memahami dan mengamalkannya. Khususnya agar umat-umatnya juga mendapatkan limpahan rahmat dan keredhaan-Nya, bagi keselamatan, kebahagiaan atau kemuliaan dalam kehidupannya masing-masing, baik di dunia yang fana ini, maupun di akhirat yang kekal.

Walaupun harus diakui, bahwa "interaksi secara terang-terangan" antara sebagian dari para nabi-Nya dan para malaikat Jibril (melalui penampakan 'wujud aslinya'), justru sesuatu peristiwa yang relatif luar biasa dan amat langka. Sepanjang sejarah umat manusia sejak jaman dahulu sampai saat ini, memang relatif amat terbatas jumlah manusia, yang pernah ber-"interaksi secara terang-terangan" dengan para makhluk gaib.

Di samping itu, interaksi antara manusia dan para makhluk gaib, memang sesuatu peristiwa yang relatif amat sulit, untuk dijelaskan atau dibuktikan secara empirik, karena menyangkut hal-hal gaib dan batiniah. Namun peristiwa semacam ini (beserta tiap hikmah dan hakekat di dalamnya) hanya bisa dirasakan dan diungkapkan secara batiniah, melalui kepekaan hati-pikiran yang relatif amat tinggi. Maka relatif amat sulit pula bisa dipahami oleh umat yang awam (walaupun pernah mengalaminya), dan terlebih lagi oleh umat yang belum mengalaminya secara langsung. Dan pemahaman atas hal-hal gaib dan batiniah, juga memerlukan berbagai pengalaman batiniah-rohani-spiritual yang relatif banyak, luas dan lengkap, seperti halnya yang telah dimiliki oleh para nabi-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar